Resume ‘Kudis’ Kurang Disiplin bersama Ust. Subhan Bawazier, 16 Agustus 2017.

Selamat pagi sahabat, Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, hari ini saya mau menulis resume terkait hasil kajian di Masjid Al Azhar, Sisingamangaraja pada 16 Agustus 2017 lalu. Kajian ini merupakan kajian rutin yang diselenggarakan oleh ASIA ( Alumni Sekolah Islam Al Azhar ) setiap rabu malam ba’da isya. Kali ini topiknya tentang ‘Kurang Disiplin’ pemateri dalam kajian pada hari itu yaitu Ust. Subhan Bawazier.

20759373_730100490447955_5566135684126736384_n

Berikut resume dari kajian ‘Kudis’ Kurang Disiplin

Kurang disiplin nya seseorang bisa terjadi dikarenakan beberapa faktor yaitu sebagai berikut ini ;

1.      Sibuk dengan pekerjaan yang tidak bernilai hingga membuang waktu dengan percuma

2.      Menyianyiakan waktu tanpa aktivitas

3.      Tidak pandai memanajemen kebijakan waktu

4.      Tidak memiliki program kerja yang tertulis

5.      Kurang disiplin dalam menuntut ilmu

Kurang disiplin atau bisa kita sebut sebagai penyakit “Kudis” ini biasanya terjadi karena kurangnya iman pada diri kita, sehingga segala sesuatu terbengkalai dengan mudahnya. Ingat duhai sahabat, harga diri seorang muslim adalah ketika ia berakad, maka akadkan dalam diri kita untuk terus meluruskan niat agar tetap jadi manusia yang menyenangi kajian untuk menuntut ilmu syar’i. Sebab orang yang berilmu tidak mau menyendiri maka ia akan selalu mencari majelis halaqah dzikir atau bisa disebut dengan Taman Surga (Majelis Ilmu). Maka muslim yang sudah dan sedang berproses menuntut ilmu syar’i dalam taman surga sudah seharusnya tidak menghujat saudara seiman baik di dunia nyata maupun di dunia maya, mari mulailah berkhusnudzhon. (more…)

Ini pengalamanku menjadi wanita 1/2 Cadar (Satu hari mengenakannya)

 

Bismillah, selamat pagi sahabat semuanya. Semoga pagi ini dan seterusnya selalu dalam keadaan baik. Hari ini saya akan menulis pengalaman saya mengenakan Niqob (Cadar) meskipun itu hanya satu hari. Sebelum sahabat sekalian selesai membaca ini saya mohon jangan langsung men-judge diri yang sedang belajar ini salah karena mengenakannya hanya sehari lantas membukanya. Karena sifat hakiki manusia adalah lemah, begitupun dengan saya. Semoga tulisan ini bisa membantu kita untuk menghargai proses seseorang, entah itu laki-laki yang sedang berhijrah maupun perempuan.

Hari itu saya memutuskan ingin mencoba walau sehari dan walau belum sempurna untuk mengenakannya. Dalam sebuah perjalanan singkat mengunjungi saudara yang melaksanakan hajat walimatul ursy di Belitong. Pada hari terakhir saya berada disana saya memutuskan untuk mencoba mengenakan niqab. Jauh dari jakarta sudah saya niatkan untuk mencoba mengenakannya, hingga saya bawa satu helai niqab di koper saya, itu pun bukan milik saya melainkan saudari saya, karena memang saya belum mendapat restu dari orang tua, dan saya berprasangka baik akan belum direstuinya saya, selagi saya masih diizinkan di dukung menggunakan yang wajib tak ada alasan saya untuk berdebat terhadap hal tersebut.

Hari itu, 18 Juli 2017 hujan pagi mengguyur kota Tanjung Pandan. Saya kehabisan stock masker saya, dan berhubung kulit saya yang mudah menghitam sedang agenda hari terakhir adalah mengunjungi pantai maka saya teringat sehelai niqab yang saya bawa, wallahi niat utama saya bukan mengenakannya agar tidak menghitam, saya ingin merasakan ‘bagaimana rasanya ketika menggunakan ini (niqob), akankah orang orang di sekeliling saya takut atau bahkan mendukung’. Beberapa pertanyaan saya lontarkan terhadap saudari-saudari saya dan jawaban mereka alhamdulillah.

DSCF4209

Saya turun dari lantai 2 hotel dan mencoba berinteraksi dengan saudara dan saudari saya ternyata mereka pun tetap mencair seperti sebelumnya, berbanding terbalik dengan hal yang saya takutkan. Sekeliling saya pun tidak ada yang berubah. Hanya hati saya yang berubah ‘ini serius kamu mau pakai seharian? Udah siap jika fotonya nanti ada yang berniqob? Udah siap menjawab pertanyaan Ama dan keluarga?’ ada pertanyaan yang terus berbicara di pikiran saya, saya menjawab pada hati saya ‘InsyaaAllaah Allaah akan lembutkan hati hambaNya, jikapun hanya hari ini saya mengenakannya setidaknya saya sudah mencoba mengenakannya dan saya bisa sedikit tahu bagaimana perasaan dan perjuangan saudari saya sehingga tak membuat saya merasa takut terhadap keputusan mereka bersyar’i secara sempurna’. (more…)

Napak tilas di Semeru, (Part 1)

Perjalanan ini terasa sangat lama dan dalam kabut dingin. Begitu banyak nasihat para pendaki untuk mereka yang sedang melakukan perjalanan. Yang paling saya ingat adalah ‘Jangan selalu melihat keatas ya, terlalu tinggi nanti kamu takut menggapainya. Tapi berjalanlah dengan menunduk. Atur napasmu. Dan latih iklasmu. Tau-tau nanti sudah sampai post akhir’

Setelah setahun berlalu, maaf baru di publis ya.

20160506_083313 - Copy

Hallooo, apa kabar semua? Hari ini saya ingin menulis mengenai pengalaman long weekend saya dan teman teman saya pada bulan mei 2016 . Apa aja si keseruan kami dan kemana aja kami selama hampir 7 hari? Penasaran? Kuy mari beri sedikit waktu saya untuk menuangkan dalam tulisan di blog ini. Pertama sebelum hari keberangkatan, malam itu saya lupa tepatnya kapan saya dan teman kosan merencanakan untuk berlibur pada long weekend yang dimulai dari hari kamis hingga minggu (5-8 Mei 2016). Sebagai anak kosan inginnya si pulang kerumah, hehehehe tapi apa daya dorongan hati untuk berpetualang sama besarnya, dengan sedikit merayu dan mengambil hati orang dirumah alhamdulillah restu di dapat. Tak mau menyia nyiakan waktu langsung sajalah kami membuat group di Whatsapp (Read, WA). Dalam group itu terdapat sekitar 13 orang yang akan melakukan perjalanan ini. Tak mau kehabisan tiket kereta malam itu juga kita membuat kesepakatan untuk membuat komitmen dengan membeli tiket pulang pergi ke lokasi tujuan. Alhamdulillah setelah semua personil di kerahkan untuk mencari tiket, kami ber 13 pun mendapatkan tiket kami. Tibalah 2 minggu sebelum keberangkatan beberapa teman kami qadarallah tidak dapat melanjutkan perjalanan pada hari yang sudah di tentukan dikarena beberapa tanggung jawab yang memang tidak bisa di tinggalkan. Alhasil yang tersisa hanya 9 orang hingga hari keberangkatan. Kami memutuskan untuk berangkat di tanggal 4 mei melalui stasiun senen. Kereta kami berangkat pukul 15.15 dan semua personil berhasil sampai di stasiun sekitar pukul 14.30.  Teman baru, belum kenal lama sebelumnya tentu masih ada canggung, pastinya. Mencoba mencair dalam suasana yang sudah ada di depan mata. Alhamdulillah tidak terlalu sulit kami mencair dalam satu kondisi. Priiitttt bunyi pluit dari penjaga peron kereta yang menandakan bahwa kereta akan segera meluncur, saat kami menoleh keatas hampir semua yang terletak disana adalah tas gunung dengan ukuran bervariasi, dari 45L sampai >60L dan dibungkus dengan rain cover berwarna warni, suasananya ramai sekali dan menyenangkan. Perjalanan 16 jam akan kami lalui bersama dalam malam pertama kami bersama tanpa sebelumnya kami saling mengenal semua, karena memang ada yang sudah mengenal lama ada juga anak baru seperti saya. (more…)

Tentang Syukur, Her Story (Terima kasih atas ceritanya, Part 1)

Tentang, Syukur (Her Story)

Hari ini aku duduk di hadapan seorang perempuan muda yang bertemu dengan sedikit janjian. Entah awal mula berbincang perihal apa, hingga berakhir dengan topik ‘Syukur’, rasanya baru kemarin aku membaca dan mempelajari dengan sedikit hati berberat akan hasil yang kuperoleh. Merasa menjadi orang yang salah, menjadi bodoh dan lambat serta apa yang didapat tak setimpal dengan pengorbanannya, lebih tepatnya ‘lebih banyak keluhan dibanding syukur’. Hingga hari ini jalan Allaah mempertemukanku dengan perempuan muda yang hidupnya masyaaAllaah penuh syukur.

aaaaaaa

Pertemuan kami tidak intens apalagi terencana, kadang hanya sapa hallo seperti orang lalu lalang pada umumnya. Hari ini disela tuntutan deadline, aku membuka pertanyaan yang memang agak sedikit sensitive terkait keputusannya menikah dengan orang yang tidak ia kenal secara fisik. Perkenalan yang ternyata bermula dari Ibunya yang kenal laki-laki yang jauh berbeda pulau yang wajahnya saja tidak pernah ia lihat. Hanya sesekali telpon dari sang Ibu yang kemudian dialamatkan kepadanya. Kedatangannyapun untuk mempersunting adalah hal yang tidak pernah diduga oleh perempuan tersebut. Singkat cerita pernikahan terjadi karena restu Ayah langsung terkantongi. Feeling seorang Ayah biasanya selalu benar terhadap laki-laki yang telah merebut hati gadisnya untuk ia serahkan kehidupan dunia dan akhiratnya. (more…)

Nasihat itu datangnya dari mana saja, ini salah satunya, Terima Kasih Pak.

Sore itu ketika sedang dalam perjalanan menuju kampus karena sendiri dan dihitung lebih hemat menggunakan ojek maka saya memutuskan untuk menggunakan ojek online. Saya order dari daerah manggarai dengan tujuan salemba. Tak lama setelah saya order, HandPhone saya berdering dan saya langsung mengira bahwa itu adalah telpon dari driver ojek. Dari seberang sana terdengar ucapan pertama kalinya adalah “Assalamualaikum Mbak, Nganu saya di dekat pos polisi ya [1]”, mendengar kata ‘Nganu’ saya langsung menebak bahwa driver saya berasal dari jawa, sayapun menjawab “Waalaikumussalam, Enjih pak kulo menuju teng lokasi njih [2]”, mendengar saya menjawab dengan bahasa jawa si Bapak kemudian mengakhiri telepon dengan “Enjih Mbak, matur suwun [3]”.

Setelah berjalan kaki sekitar 3 menit saya menemui Bapak tersebut dan kemudian saya langsung dipersilakan naik motor si Bapak. Bapak tersebut kemudian bertanya “ Nganu Mbak, ngapuntene niki dadose ngangge bahasa jawi, lah Mbak’e saking pundi njih? [4]” saya jawab “Mboten nopo nopo Pak, kulo saking Banjarnegara [5]”. Mendengar jawaban saya, saya melihat bapak tersebut menggelengkan kepalanya diikuti kalimat “Ndak mungkin Mbak’e saking mriku asline, tak kira Mbak’e saking Surabaya nek mboten nggih daerah Solo opo semarang, logate Banjarnegara kan ngapak, lah Mbak’e alus tenan, ngapuntene njih mbak” [6]. Seketika saya tertawa dan menjawab “ Kulo asline Banjarnegara namung saking kecil tinggal teng Jakarta, lah saiki kulo seg sinau bahasa Jawi sing alus, rencangan kulo saking Suroboyo, Semarang, Jogja, dadose njih logate kulo niki berubah”[7]. Si bapak pun tertawa. Sampai di perempatan Matraman saya membuka pembicaraan kembali “Bapak kulo nek ngomong kalih bahasa alus sebenere njih kesulitan nek kulo campur kalih bahasa Indonesia, mboten nopo-nopo  njih”[8] saya kemudian membuka pertanyaan pertanyaan terkait bagaimana awal mula bergabung menjadi ojek online, kemudian bagaimana konsep kerja disana, dan bertanya juga terkait honor bonus, dengan tetap berusaha menggunakan bahasa jawa yang halus. Si Bapak dengan senang hati menjawab pertanyaan saya sambil sesekali diselingi tawa.

Sampai di pertengahan perjalanan Si Bapak driver berbicara kembali ‘Mbak’e ngingatken kulo kalih putrine kulo sing saiki teng jawi, nek Bapak olih saran njih Mbak’e, nek kulo mau kasih saran kalih Mbak’e niki suarane Mbak’e kehalusan, ampun kados niku njih Mbak, soale nek tiang perjaka sing ngerungu niku bisa nggawe perjakane salah pikiran mboten fokus, nek terlalu alus, nopo sehari hari Mbak’e njih kados niki?”[9]. Seketika saya bingung, halus dari mananya ya? Saya coba bertanya “Walah, kados niku njih Pak? Tiap dinten nggih kulo kados niki [10]” kemudian si Bapak nyambung lagi “Njjih Mbak, nek kehalusan njih mboten apik ngge Mbak’e nanti jadi pada salah fokus kalau Mbak’e suarane ngados niku, kulo njih ngapuntene ngomong kados saiki soale kulo gadah putri juga seusia Mbak’e saiki nggih fitnah niku kejam untuk perempuan akhir zaman, lebih mbak’e durung gadah suami, ngapuntene nek lancang njih Mbak”[11] (more…)

#Challenge300KoneMonth, Hemat pangkal bahagia dan tentu sehat! Yuk mari di coba

Hai readers, mau nulis tentang cerita dikosan baru baru ini nih. Ah ya jadi begini ceritanya, baru baru ini kami di kosan sebagai anak kosan pasti yang sudah lulus dari zona kembang kembis anak kosan tau lah ya, ada saja hal yang membuat kita untuk berhemat sehemat hematnya. Kami sadar kami bukan dari keluarga yang berada sehingga kosan yang berharga Rp.400.000 di era 2017 ini sangatlah menolong kami walau kami harus berjalan dari jalan utama ke kosan itu sekitar 10-15 menit. Hal itu tidak menjadi perkara rasanya bagi kami, kami sadar dengan uang Rp.400.000 menginginkan lokasi kosan di depan rasanya tidak mungkin mengingat ini tahun 2017. Pertama kali saya pindah ke kosan ini saya masih merasakan membayar kosan dengan harga Rp.300.000 di tahun 2013, sebelumnya ketika saya 2011 mengekos di dekat kampus harga perkamar yang saya ambil adalah Rp.700.000, hingga suatu ketika negara api menyerang saya memutuskan untuk mencari kosan baru dengan harga yang bisa saya toleransi hingga kantung saya tidak terlalu tercekik rasanya. Mencari kosan ini rasanya saya sedang tidak berada di Margonda melainkan saya berada di daerah kampung halaman saya, dikarenakan lokasi rumahnya yang begitu asri dan jauh dari jalan utama hingga bising tak saya rasakan. Nama kosan kami adalah Sari Tanjung 2, dikosan ini saya bertemu dengan banyak orang yang berbeda karakter tapi ternyata satu frekuensi artinya banyak hal yang bisa menyambung kami perbincangkan setelah kegiatan siang hari kami baik sebagai mahasiswa ataupun yang sudah bekerja. Rasanya kekeluargaan yang belum pernah saya temui di kosan terdahulu atau kosan kawan saya ketika saya main. Di Sari Tanjung kami terbiasa berbagi makanan baik makanan mewah atau makanan sederhana. Makanan mewah disini maksudnya adalah makanan yang mungkin jika dibeli akan mengeluarkan uang diatas Rp.50.000, angka yang kecil mungkin untuk sebagian orang tapi bagi kami itu luar biasa besar.

Tips-Hemat-Ala-Anak-Kost

Satu satu dari kami yang sudah lama berada dikosan memang pada akhirnya akan keluar dikarenakan pindah kerjaan ataupun mendapat pekerjaan baru (masa perpindahan dari mahasiswa menjadi pekerja), dan ternyata setiap kamar memiliki sosok yang biasa dicontoh baik dari mengatur uang, mengatur kamar ataupun mengatur waktu luang. Baru baru ini dikosan kami ada yang bercerita bahwa selama sebulan ia mengeluarkan uang untuk makan sebesar Rp.300.000, ini sungguh membuat kami tercengang. Perbincangan malam itu melahirkan ide #Challenge300KoneMonth dimana masing masing dari kami berusaha tetap mengkonsumsi makanan sehat dengan total pengeluaran untuk makan dalam sebulan adalah Rp.300.000. Mungkinkah kami bisa?

(more…)

Yang suka membuat gagal fokus!

thehappyresearcher_2016-01-23_16-54-03

 

Hai readers, apa kabar? mau sharing nih. Sering punya ide nulis ndak? tiba tiba muncul idenya kemudian menggebu untuk merangkai, seketika juga ingat tidak bawa alat tulis atau laptop hanya bawa handphone jadul yang karakternya saja terbatas *nasib* hihihiiii.. sesampainya di rumah atau di kosan langsung buka laptop dong, ehh tiba tiba itu ide menguap entah dimana tadi menguapnya. Seketika lenyap. Lupa. Ahh itu saya sering sekali, kalau fellaws bagaimana? semoga si ndak ya. Daaaaan yang parahnya setelah buka laptop yang dibuka malah folder Korean Drama, aigoooo….

Keinget drama si ahjussi yang belum rampung, sayang kalau ndak dirampungkan. Maunya si nonton 1 episode aja, tapi setelah 1 episode selesai, masih penasaran berhubung stocknya 5 episode udah di tangan. Alhasiiill lah, nulis ndak, nonton iya. Coba siapa yang pernah begini?

Yes, saya! (more…)