Genggamlah dengan iman

19

#Day 3 | Ketika semesta terasa mendukung dengan hujan yang jatuh, dan aku suka.

Genggamlah dengan iman dengan begitu ia tak akan menyakitimu. Karena hakikatnya itu adalah anugrah. Tinggal bagaimana kamu memperlakukan anugrah tersebut. Dari ratusan ribu orang yang kau jumpa, kenapa harus dia? apa itu sebuah kebetulan? ahh tidak rasanya. Kamu selalu berusaha membuat dinding yang tebal nan tinggi agar kamu aman, nyatanya aman itu adalah ketika kamu menggenggamnya dengan iman, bukan dengan menjauhi atau mengacuhkannya.
Jika hari ini kamu jatuh sedalam dalamnya maka pastikan kamu tetap menggenggam iman bersama jatuhmu. Agar kamu aman. Agar kamu percaya bahwa ini semua bukan sebuah kebetulan.
Bahwa rasanya konspirasi semesta telah ada didalamnya tanpa daya upaya kamu untuk menolak terlebih mengacuhkan.
Yakin dan percaya lah. karena keyakinan akan bertemu dengan keyakinan pada waktu yang tidak kamu duga. Dan pastikan disana ada iman yang selalu kamu genggam, agar ketika patah harapan kamu masih memiliki pegangan yang selama ini kau genggam, ia adalah iman.

Ternyata saya jatuh,

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, selamat siang para readers dan para penulis, hari ini saya mau menulis tentang hal yang pernah saya tulis sebelumnya yang berjudul ‘ Kenapa Izzah dan Iffah seorang muslimah harus dijaga?’ , terimakasih untuk 425 akun yang sudah menshare di akun facebook nya dan sudah memberikan komentar yang membuat saya menjadi antusias menulis lagi. Kali ini saya akan menulis tentang ‘ Ternyata Aku Jatuh’ , yukk langsung di simak ya.

Remaja, begitu lah saya, remaja menuju dewasa lebih tepatnya si hehehe. Walau menjelang dewasa tetap saja dirumah saya adalah anak kecil karena anak terakhir. Ini adalah fase yang saya takutnya selama ini, fase dimana mudah ‘Jatuh’ jatuh pada apapun itu yang menarik hati dan menyenangkan sehingga membuat bersemangat bukan hanya dalam keseharian namun membuat semakin bersemangat bertemu dalam lima waktu untuk menceritakannya dan mendo’akannya. What the? apakah ini sehat? kok baru bersemangat ketika ada yang ingin diceritakannya adalah hal yang menarik hati dan pikiran hingga tak jarang menjadi sulit berkonsentrasi.

Ternyata saya jatuh, ya jatuh pada hal yang saya sendiri tidak mengerti dan saya takutkan selama ini. Bagaimana kalau dengan saya jatuh tersebut saya sudah membawa orang lain untuk jatuh juga ketika ternyata belum siap? atau bagaimana jatuhnya kita harus dihempaskan lagi dan berdebum ditempat lain? Bagaimana kalau ternyata saya nyatanya juga belum siap untuk jatuh?

Ternyata saya jatuh dan membuat orang lain terzalimi dengan merasa terbebani itu juga salah satu hal yang membuat saya takut. Saya hanya tahu bahwa jatuh ‘dalam konteks ini’ adalah hal yang wajar untuk laki-laki maupun perempuan memang sudah kodratnya pada suatu waktu nanti akan terjatuh dan menjatuhkan pilihan kemana dan dengan siapa.

Pertanyaannya adalah, sudah siapkah saya dihempaskan? sudah siapkah kita dengan dunia mengetahui? sudah siapkah kita dengan semua konsekuensinya? atau kita hanya menikmati peningkatnya zat dopamin? atau kita hanya terhipnotis dengan sekitar yang sudah terbiasa ‘jatuh’ diluar aturan?

Pertanyaan pertanyaan tersebut akhirnya membuat saya mencari tahu kembali hakikat dari ‘jatuh’ yang saya alami. Dan sedikit yang ingin saya share disini adalah mengenai pencarian yang saya lakukan. Apakah ketika kita ‘jatuh’ kita salah? kita berdosa? dan kita harus mengungkapkan jatuh tersebut?

Pertama, Jatuh tidak lah salah, jika engkau menggunakan cara yang benar, karena apa? memang kodratnya secara alamiah setiap manusia akan merasakan fase tersebut. Yang membedakan adalah apakah ia menjatuhkannya dengan cara yang benar atau mengikuri nafsu semata? tak jarang yang kedua adalah pilihannya namun tak sedikit mereka yang tetap teguh memegang prinsip cara yang benar. Entah bagaimana ia harus bertindak ketika bukan keluarga yang mendesaknya untuk segera mengakhiri masa sendirinya namun tetangga dan lingkungan yang selalu punya opininya sendiri. Namun tetap teguh untuk tidak memilih cara yang salah. Ia tetap berdo’a , yakin dan percaya bahwa Tuhan sedang menyiapkan orang terspecial untuknya, jika ia bisa lulus dalam ujian ini.

kedua, ia yang tidak kuat untuk berperang dengan perasaanya ketika jatuh maka ia akan mengambil cara kedua yaitu mengutarakannya tanpa mengindahkan syariat yang diberikan. Ia melanggar hal tersebut. Merasa senang dan nyama telah mengobati rasa jatuhnya dengan mengungkapkan secara langsung walau dalam kesiapannya untuk melangkah lebih lanjut ternyata belum memumpuni . Ia bersenang akan pengobat jatuh hatinya tersebut namun tanpa disadari ia sedang menggali rasa sakit yang lebih berat dibanding dengan mencoba menahan diri, sewaktu waktu tali temali yang terjalin untuk mengobati rasa jatuh tersebut yang belum di kukuhkan dalam ikatan halal kemudian harus pupus sebelum janur kuning  melengkung dan ijab qabul terucap maka sakitnya itu pasti sangat menyiksa.

Jujur saya sendiri alhamdulillah belum dan tidak ingin merasakan rasa sakit yang luar biasa karena saya belum mampu untuk hal tersebut dan saya memilih untuk tidak mendekatinya. Saya masih percaya dan yakin ketika saya lulus ada hadiah yang begitu indah yang akan mengobati rasa jatuh ini tentunya dengan cara yang benar.

Disini saya bukan ingin menasehati atau mendeskriditkan mereka yang memilih jalan kedua, hanya saya selalu tidak tega melihat mereka yang ternyata kehilangan obat jatuhnya dan belum siap karena cara yang kurang benar maka siapa hendak disalahkan? Saya belum siap untuk merenung sepanjang hari atau bertemu dengan pengobat namun semakin menggali rasa sakit.

Jika kita kembali menelisik lebih dalam tentunya ayah dan Ibu pernah merasakan rasa jatuh tersebut dan mendapatkan bahwa masing-masing adalah pengobat. Pernahkah kita bertanya, bagaimana cara mereka memutuskan untuk saling mengobati? saya yakin beliau-beliau menggunakan cara yang benar. Tak jarang saya menanyakan kepada kakek dan nenek apakah beliau mengobati rasa jatuh tersebut dengan mengikat diluar ikatan halal? nyatanya setelah perjalanan pernikahan yang tidak sedikit hampir diatas 50 tahun beliau mengatakan ‘obat itu hadir bukan karena kita mengikat diluar ikatan halal, tapi obat itu hadir ketika ikatan halal sudah ditangan, hati tentram dan nyaman’ dan ketika saya tanya ‘Apakah mengobati perlu dengan obat yang seperti pada masa ini? jika belum siap’ lantas kakek dan nenek menjawab ‘ Kakek memilih nenek menjadi pengobat dan langsung mengutarakan kepada sang pemilik nenek wali nenek di bumi yaitu ibu bapak beliau, ketika sudah direstui maka keyakinan bahwa nenek adalah pengobat itu semakin kuat, walau keraguan setiap hari semakin membuncah linier dengan perasaan yakin tersebut, tapi hingga kini kami masih baik baik saja’.

Ternyata saya jatuh,

 

Kadang,

Kadang kita tak butuh pengakuan. Kadang kita hanya butuh waktu bersama mesti singkat. untuk bercerita, berbagi canda, menangis bersama dan kadang hanya untuk saling menyapa atau berbagi senyum.

Kadang pula kita sering menerka, apa, bagaimaa, kenapa, dan harus bagaimana. Tanpa harus mendapat jawaban pasti. Aneh ya rasanya. Namun kadang memang begitu.

Kadang yakin hingga begitu cepat hinggap di hati, kadang pula ragu cepat hadir secepat kilat cahaya. Kadang ada rasa tidak percaya yang berkelanjutan karena ternyata Tuhan menyiapkan sebuah hadiah terindah yang sudah sedikit nampak kepermukaan dari keabu abuannya. Kadang pula kita menangis dan bertanya kenapa abu abu ini tak kunjung menjadi hitam atau putih. Kita kadang merajuk dan mempertanyakan, namun kadang kita juga mengikhlaskan dengan begitu mudahnya.

Ahh kadang memang seperti itu. Sulit untuk diterka apa hati ingin dan apa realitas terjadi. Kadang pula hal yang kita terka nyatanya tidak baik dan kita baru sadar bahwa realita itu indah, tapi tak jarang pula kadang kadang kita itu kecewa akan realita yang terjadi.

Bukan karena tak perduli

Flower-flowers-32348112-1680-1050

Bukan karena tak perduli, hanya saja terkadang lebih baik memilih untuk menjaga kehormatan perasaanmu dan kehormatan perasaaannya. Karena ia sadar tipu muslihat setan begitu dahsyat.  sekuat apapun ia mencoba untuk menahan apa yang disimpannya rapat rapat, nyatanya rona wajahnya tetap saja tak bisa disembunyikan dari mu bukan? Ia memilih tak pernah menghubungimu untuk menanyakan hal hal yang terbilang basa basi, karena ia tahu sekuat apapun ia mencoba untuk biasa, nyatanya itu selalu gagal jika kamu ada di dekatnya. Entah do’a seperti apalagi yang harus ia panjatkan agar ia biasa saja jika berpapasan denganmu.  Entah harus bertingkah seperti apalagi untuk menyembunyikan salah tingkahnya darimu.

Ia tahu rasanya  nyaman jika kamu ada di dekatnya, ia juga tahu rasa nyaman itu bisa jadi ujian baginya. Ujian untuk menjaga kehormatannya, dan untuk  menjaga kehormatanmu ia memilih menjaga jarak dengan tak menghubungimu, dengan mengurangi interaksi denganmu, karena ia sadar selain kamu adalah ujian baginya, ia bisa  juga menjadi ujian bagimu. Andai kamu diposisi hidupnya, bagaimana perasaanmu?

Depok/8.8.16/23:53

 

Apakah aku sudah menjaga izzah dan iffahku?

jilbab-abu-abu

Apakah aku sudah menjaga izzah dan iffahku?

Pertanyaan yang sering aku tanyakan kepada diri sendiri. Refleksi atas apa yang sudah aku baca dan aku lakukan, menurutku ‘ya sudah’ walau tidak sempurna. Aku mencoba. Ditengah godaan yang kuat arusnya. Aku mencoba. Kenapa harus aku jaga izzah dan iffahku? Karena aku seorang perempuan, seorang perempuan pasti dalam kehidupannya ingin dihormati kehormatannya, ingin dijaga dan menjaga. Tapi apakah yang aku lakukan sudah menjaga izzah dan iffahku?

(more…)

Mencharge Hati

pernikahan

Allaah akan mempertemukan diwaktu yang tepat dengan orang yang tepat, ingat jika bukan orang lain pasti dia. Ahh begitu yakinnya dirimu gadis.
Ingat Iman itu sifatnya naik-turun, jadi harus terus dicharge. Apalagi hati wanita sifatnya lemah, perlu dicharge.
Jatuh cinta itu memang fitrah, asalkan ditempatkan di tempat yang sepantasnya. Tegaskan dalam hati, bila lelaki yang baik itu tidak akan mengajak wanita yang dicintainya untuk pacaran. Ia akan menjaga izzah dan iffah kita sebagai perempuan. Ia tidak akan mengajak kita dalam perbuatan maksiat. Tidak. Sekali lagi tidak.
(more…)