“Sebuah jejak di tepi Danau itu”

images (3)Bissmillah,

Kita tahu bahwa semua ini terjadi atas kehendakNya, tak jatuh sehelai daunpun dari pohon tanpa kehendakNya. Insyaa Allah tulisanku pagi ini akan bercerita tentang  “ Sebuah jejak di tepi Danau itu”.

“ Sebuah jejak di tepi Danau itu”

Hatiku tak ingin beranjak untuk menatap jauh ke kedalaman danau itu, sore itu saat matahari mulai kembali ke peraduannya , aku masih nyaman duduk ditepi danau sambil melihat sekitarku. Tuhan menciptakan tempat ini memang luar biasa, Indah dan mendamaikan hatiku yang sedang mengalami sebuah guncangan kecil. Suara beberapa remaja seusiaku yang bertebaran di udara sore itu ku translet menjadi sebuah alunan instrumental . Aku duduk disebuah bangku taman tepat di bawah sebuah pohon rindang. Ditanganku terdapat sebuah notes, aku berharap mendapat inspirasi untuk ku jadikan tulisanku, dan aku melihat sebuah jejak kaki di dekat kakiku. Tiba-tiba memory tentang jejak kaki yang lain muncul dalam pikiranku. 3 tahun yang lalu, saat aku memiliki seorang sahabat yang kini telah menemukan jalan impiannya, dan kini menjadi sahabat penaku. Kami bercerita tentang memory kita saat kita dapat bertukar inspirasi. 3 tahun yang lalu pula, dia (sahabat penaku) mengenalkanku kepada seseorang yang sedang menuntut ilmu nan jauh di sana, sebuah negara yang tak pernah terbayangkan olehku.

Jejak memory itu semakin kuat dan membuatku sejenak sesak ,aku berkata “ Cukup, ini sore hari yang menyenangkan go away “. Tiba-tiba Handphoneku berdering, ku tengok , siapakah yang menelponku??. Tak menyangka , sungguh kenapa saat ini? Nama yang muncul dari layar handphoneku  – Rafy . Oh Tuhan, saat aku memikirkan dia, kau tiba-tiba membuatnya menghubungiku, ada apa? Pikirku. “Hallo, Assalamu’alaikum” suara jauh diseberang sana menjawab “ Hallo, Walaikumsalam, Asya  apa kabarmu? Lama kau tak menjawab sebuah email dariku, long time you sent an email to me , aku berkali kali mencoba menghubungimu”. Tuhan, apa yang harus aku jawab? Pikirku dalam keadaan yang tak pernah terbayangkan ini. “ Alhamdulillah Rafy, aku baik disini, maaf aku ada sedikit kesibukan disini, setelah selesai aku pasti akan mengirim beberapa tulisanku padamu,” singkat jawabku. Itu hanya aliby ku saja, supaya aku bisa menata hati ini.

Tak ada basa basi yang terlontar dari bibirku, aku mulai berpikir, apa yang akan di pikirkan Rafy, jika dia tahu kini aku sudah tak seperti Asya 3 tahun yang lalu, yang dia kenal. Tapi ternyata, Rafy selalu memantau keadaanku dan dia bahkan mengetahui semua tentangku kini, dia tahu dari teman dekatku , ya dia sahabat penaku, dia yang mengenalkan kami, dan dia pula yang selalu berusaha menyatukan kami.

“ Alhamdulillah Asya, kamu sekarang sudah memilih jalan yang memang itulah jalan yang terbaik, aku berharap kamu istiqomah, jagalah diri baik-baik disana, Aku akan kembali setelah aku menyelesaikan Thesis postgraduated  ku disini, aku berharap kamu bisa menunggu, tetapi aku juga tak bisa memaksakan apa yang ada di benakmu. “ . Apa yang sedang di bicarakan Rafy ini? Aku sungguh tak memiliki kata untuk menjawabnya, yang aku punya hanyalah kediam-an untuk tak memunculkan suara sedu ku. Lalu tak berapa lama sebuah suara lain terdengar dari seberang telephone itu, dan Rafy langsung berkata “ Asya, maap aku harus memutuskan komunikasi ini, tetap Istiqomah dan temui cahayaNya, disana jika memang kita dikehendaki maka kita akan bertemu. Wassalam”.

Aku dan Rafy sesungguhnya tak pernah berkomitmen dan belum pernah sekalipun kami bertemu, dia telah menetap hampir 4 tahun di UK dan saat dia kembali ke negara kami, aku selalu memiliki kesibukan sendiri, dan diapun kembali hanya untuk acara-acara seperti hari Istimewa keagamaan dan hanya 2 atau 3 hari. Karena disana dia juga memiliki sebuah pekerjaan yang tak bisa ditinggal. Menurut teman temanku yang lain, ketika aku meminta pendapat mereka tentang pertemananku dengan Rafy, Most of All Them said to me  “ Apa yang kamu tunggu, mapan sudah, pintar juga, lalu mau mencari kemana? Dia menerima semua hal, bahkan saat kamu hingga kini tak bisa bertemu dengannya saat dia disini. Bukan aku tak ingin bertemu, tapi aku takut dengan keadaanku yang seperti langit dan bumi, kami memiliki kehidupan yang berbeda, aku seoarng anak perempuan dari keluarga yang tak memiliki harta berlimpah sedang dia, adalah pangeran disebuah istana yang megah.

Tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya, bahwa Tuhan memberikan kami waktu untuk saling mengenal melalui tulisan tulisan yang ku kirim kepadanya, dan sebaliknya. Yang aku tahu dari sahabat penaku, Rafy juga tak mengetahui entah mengapa, dia tak memiliki sebuah keinginan untuk mengenal yang lain, dia begitu nyaman dengan keadaan kami, dan berkata bahwa dia yakin dengan keadaan ini, hingga dia kembali untuk ke menemui kedua orang tuaku, Rafy tahu keadaan ku, tapi dia selalu berkata “ Asya, Tuhan mengenalkan kita dan Tuhan telah memberikanku keyakinan ini, dan aku berharap keyakinan itupun tersemat dihatimu, aku tahu semua tentang kamu, kedua orang tuamu dan kakak-kakakmu serta keadaanmu sekarang, tapi itu bukanlah sebuah hambatan untukku, berkata seperti ini dan untuk menyampaikan niatku ini, setelah aku kembali , segera aku akan menemuimu dan memintamu kepada kedua orang tuamu”. Tuhan apakah ini sebuah hadiah?.

Tak banyak yang percaya, tanpa status berlebel “ Pacaran” tanpa basa basi rayuan gombal, dan kami yang belum pernah bertemu sekalipun, hanya ada rencana ketika dia kembali kami akan berta’aruf  satu bulan saja, setelah itu jika memang kami adalah dua nama yang telah tertuliskan di lauh mahfudNya maka kami akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.

Tak terasa satu tahun berlalu, dari telephone terakhirnya. Kini aku telah menyelesaikan study dan kini aku adalah fresh graduate  yang siap berkompetisi sesungguhnya  dan aku sudah lama tak mendapat telephone dan email dari Rafy, pikirku Rafy pasti kini sadar, aku tak sesuai dengan apa yang diharapkannya, sedikit sakit, tapi tak mengapa, karena aku sadar diri ini jauh dan tak pantas bersanding dengannya.

Hari itu, setelah seperti biasa aku berkunjung ke danau tempatku mencari inspirasi, aku melihat sesosok manusia yang melihatku dari kejauhan tepat didepan rumah sederhana keluarga ku. Sosok itu melambai dan aku dengan spontan menengok kearah belakangku, adakah orang lain yang dia tuju di belakangku, tapi ternyata tak ada siapa siapa, jantungku tak dapat aku kontrol suaranya begitu kencang dan “ Apa ini?” . Dan sebuah suara disusul sesosok sahabat pena ku Ririn keluar dari rumahku, yah dia Ibu dan Ririn sahabat penaku. Lalu siapa laki-laki itu dan beberapa orang lain lagi dirumahku, wah itu pasti calonnya Ririn yang akan mengabarkan bahwa dia sebentar lagi akan menyebar undangan, oikirku.

Tepat didepan pintu rumahku, aku tak tahu harus berbuat apa, lalu aku memberi salam kepada semua dan terus tersenyum lalu seketika sebuah pelukan hinggap ditubuhku, Ririn dengan spontan dan tak terduga memelukku dengan erat, itu memang kebiasaanya, aku sudah tak heran, tapi lama lama aku kesulitan bernapas, ku coba lepaskan pelukannya, saat itu aku menoleh ke kananku dan aku hanya tersenyum melihat sosok indah di sampingku tanpa sepatah katapun aku meninggalkan sosok itu dan meminta izin untuk masuk kerumah dahulu.

Sampai dirumah ibuku melakukan hal yang sama seperti Ririn, semakin bingung aku dengan keadaan ini, karena tak diberikan waktu untuk bertanya. Aku berjalan ke arah kamarku dengan banyak pertanyaan yang akan ku lontarkan kepada Ririn, tentang keadaan aneh yang sedang terjadi.

Belum sempat aku bertanya, Ririn langsung berkata “ Asya, kamu tahu siapa yang tadi ada didepan dan beberapa orang itu?” aku menggelengkan kepalaku, karena tak memiliki ide untuk menjawab pertanyaan itu. Dengan semangat Ririn siap untuk memberondongku dengan banyak  cerita tentang mereka semua yang ada dirumah ku. Ririn memulai dengan penuh semangat “ Diaaaaaa ituuu Rafy, Asya” sambil histeris. Ku kerutkan dahiku dan kuarahkan wajahku ke arah Ririn yang sedang duduk di ranjangku. “ Dan mereka yang lain adalah keluarganya, kamu lupa ini adalah tahun dia lulus dan dia kembali Sya.. kembali” nada yang juga sama histerisnya. Seketika kakiku lemas dan seperti tak memiliki tulang, aku langsung terduduk di bangku dan kulepaskan pakaian yang tadinya ingin ku gunakan. Seribu perasaan tak percaya, Indahnya sosok itu, dan ramahnya, senyumnya , ku ambil kaca kecil di meja belajarku dan kuarahkan kewajahku. Seperti tak diberi kesempatan untuk shock time , Ririn menyodorkan sebuah gamis pink manis dengan sedikit mute di bagian tangan dan dada serta bawah gamis itu. “ Ini pakai, dan kita kedepan ya, Rafy ingin memintamu kepada ibu bapak, kamu siap kan?”. Serasa ada petir tepat di atas kepalaku, serasa ini adalah mimpi dan aku jujur tak ingin terbangun.

Kucubit pipiku dan “Auhhhh sakitt” teriak lirihku, ini bukan mimpi. Aku menarik tangan Ririn dan berkata “ Rin bagaimana bisa? Aku dan dia belum pernah memiliki hubungan dan kami hanya berkomunikasi melalui email dan tak pernah sekalipun aku mengirimkan photo ku, bagaimana ini semua bisa Rin?”. Ririn menjawab dengan lembut ,” itulah kuasa Tuhan Sya”. Ternyata tanpa sepengetahuanku Ririn pernah mengirimkan photo kami berdua ke Rafy, dan memang Ririn dan Rafy itu dekat sekali, mereka berdua adalah saudara sepupu.

Setelah selesai mengenakan gamis manis berwarna pink itu, aku disuruh Ririn untuk menemui Rafy dan keluarganya, kini keluargaku dan keluarga Rafy telah duduk di satu tempat yang sama, dan ayah Rafy memintaku kepada bapakku untuk mengizinkan Rafy meminangku dua minggu lagi, Ayah Rafy berkata bahwa semua kesiapan akan di lakukan dari hari ini jika memang Rafy di restui. Bapakku melihat kearahku dan bertanya “ Bagaimana dengan mu ndo? Apa kamu juga sama denga nak Rafy? Bapak akan melepaskanmu jika kamu memang juga yakin dengan ini”. Karena aku juga sebenarnya memiliki perasaan yang sama dengan Rafy, namun tak pernah membayangkan tentang waktu ini, aku dengan terus menunduk , menjawab “ Inysaa Allah pak, aku siap, jika memang Mas Rafy yakin denganku, aku bersedia” .

Akhirnya acara khitbah-an  ini selesai juga dan tak terasa sudah satu minggu, kami ( aku dan Rafy) memutuskan untuk tidak saling mengumbar perasaan walau kedua keluarga telah sama sama restu, kami tetap seperti saat kami masih berjauhan hanya berkomunikasi melalui email dan melalu Ririn, Ririn sudah seperti pak Post yang mengirimkan kabar antara kami berdua. Persiapan menuju pelaminan tinggal 3 hari, beberapa pakaian dan perlengkapan yang lain dikirimkan oleh Rafy kerumah . Dan hari itupun tiba, tepat pukul 09:00 pagi aku dijemput oleh Ririn dan keluarga Rafy yang lain bersama keluargaku pula kesebuah masjid tak jauh dari rumahku. Saat keluar rumah, ternyata banyak sekali tetanggaku disekitar rumah dan terus memberikan selamat, aku tersenyum kepada mereka lalu melangkah ke mobil yang di siapkan Rafy di ikuti oleh keluargaku. 15 menit, akupun sampai dimasjid itu, aku duduk jauh di belakang Rafy, bapakku berjalan kearah Rafy yang sudah ditemani oleh penghulu di tengah masjid, dan mamaku tetap menemaniku di tempatku, tentu bersama ibu dari Rafy.

Kami memang sudah sepakat untuk melakukan pernikahan ini dengan syar’i dimana Rafy tak bisa menyentuhku dan aku tak duduk disampingmya hingga kalimat ijab qobul selesai dan baru aku di persilahkan menuju kesamping Rafy. Tak dapat aku gambarkan dengan kalimat sepuitis apapun perasaan ini.

Sebuah akhir yang bahagia dan tak pernah terbayangkan oleh gadis kampung yang jauh dari hingar bingar. Dia yakin ketika dia bisa menjadi manusia yang baik maka Allah pun akan mengirim seseorang yang baik pula. Asya dan Rafy kini telah halal untuk bersama dan membangun keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Setelah pernikahan resepsi pernikahan usai, dan Asya harus ikut Rafy tinggal di rumah keluarga Rafy sebelum mereka akan terbang kembali ke UK karena Rafy mendapat panggilan untuk bekerja disana. Karena Asya yang tak mengetahui banyak tentang Rafy dan begitupun sebaliknya, keadaan canggung dikeduanya masih saja terlihat jelas, Rafy dan Asya menjadi bahan pembicaraan dan candaan karena tingkah mereka.

2 minggu setelah pernikahan mereka pun berangkat ke UK untuk menetap disana hingga waktu yang belum di tentukan. Kehidupan yang tak pernah dibayangkan oleh Asya dan Rafy, kini mereka menjadi sebuah keluarga, dengan jalan yang memang diyakini oleh mereka. Kehidupan memang tak bisa diramal akan menjadi seperti apa, apa yang mungkin baik dimata manusia namun tak baik bagiNya, apa yang indah bagi manusia namun tak indah dimataNya karena jalan yang dipilih salah. Dan apa yang tak pernah terpikirkan ternyata diberikanNya, itulah kuasa Tuhan.

Wassalam

Penulis tanpa nama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s