LARANGAN MENDASAR DALAM KEUANGAN SYARIAH

Syariah

Keuangan syariah adalah bentuk keuangan yang didasarkan pada bangunan hukum islam. Syariah sendiri memiliki arti “jalan menuju sumber air”. Syariah didasarkan pada dua sumber hukum utama islam yaitu Al-Qur’an (firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala) dan Al-hadits (perkataan dan perilaku rasulullah shallalahu alaihi wasallam). Dewasa ini, kajian mengenai keuangan syariah sangat pesat pertumbuhannya, baik dikalangan aktivis, praktisi, akademisi ataupun masyarakat umum. Apa dasar keuangan secara syariah ini dikaji sampai mendalam, beberapa berpendapat karena keuangan secara syariah ini dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman, serta dapat digunakan oleh semua kalangan, yang artinya bersifat universal.

Yang membedakan keuangan syariah dengan keuangan konvensional adalah dalam keuangan syariah setiap transaksi haruslah sesuai dengan prinsip syariah. Prinsip syariah yang utama adalah sebagai berikut :

  1. Keyakinan pada tuntutan ilahi
  2. Tidak ada bunga
  3. Dilarang terdapat investasi haram
  4. Dianjurkan berbagi risiko
  5. Pembiayaan didasarkan pada aset riil

Keuangan syariah menawarkan layanan-layanan serupa dengan keuangan konvensional. Perbedaannya adalah transaksi syariah haruslah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Halal versus Haram

Ketika mendengar kata halal vs haram, hampir setiap orang dapat meng-interpretasikan maksud dari kedua kata itu. Kata haram berasal dari bahasa Arab, yang artinya “terlarang”. Yang dapat disimpulkan bahwa haram merupakan segala sesuatu yang dilarang oleh agama. Hal-hal yang tergolong haram adalah :

  1. Perilaku-perilaku tertentu seperti : perzinaan, pornografi, perilaku tak senonoh, pemerkosaan, dan penyiksaan, serta masih banyak lagi.
  2. Makanan tertentu seperti  yang mengandung alkohol , daging babi ataupun binatang yang disembelin tanpa menyebut nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  3. Kekayaan yang didapat secara tak baik seperti : menipu, mencuri, korupsi.
  4. Menyembah sesuatu selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selain itu, haram berlaku pula untuk penyembahan kekayaan dan objek-objek materi lainnya.

Halal berasal dari bahasa Arab yang menunjukkan objek atau tindakan apapun yang diperbolehkan menurut hukum islam. Apa yang mungkin halal tidak bisa disimpulkan sekadar dengan mengamati apa yang haram. Hal ini seperti perceraian tidak haram, perbuatan itu tidak dianjurkan dan tidak halal. Ketika berbicara mengenai keuangan syariah, maka kita akan berbicara dalam ranah kegiatan manusia secara habluminannas (Muamalah).

 

 

Larangan mendasar dalam keuangan syariah adalah :

  1. Diharamkannya bunga (Riba)
  2. Diharamkannya ketidakpastian (Gharar)
  3. Diharamkan transaksi judi (Maisir)

Selain itu, ada pula praktik yang diharamkan serta dianjurkan dalam keuangan syariah sebagai berikut :

  1. Diharamkannya transaksi untuk memanipulasi harga.
  2. Pemberitahuan informasi memadai dianjurkan, dengan tujuan agar kedua belah pihak merasa mendapatkan haknya atas informasi.
  3. Kerjas sama yang saling menguntungkan dan saling memberikan manfaat dianjurkan.

Mengapa Riba diharamkan?

Riba diharamkan bukan hanya di agama Islam, katolik ,gerakan anti-riba terus mendapatkan tempat selama awal Abad Pertengahan. Puncaknya, pada tahun 1311, Paus Clement V membuat larangan riba dan menyatakan bahwa semua undang-undang yang mendukung, batal demi hukum. Hindu-Budha melarang riba berdasarkan Teks – teks Veda India kuno (2.000-1.400 SM) mengkisahkan “lintah darat” (kusidin) disebutkan sebagai pemberi pinjaman dengan bunga. Atau dalam dalam teks Sutra (700-100 SM) dan Jataka Buddha (600-400 SM) menggambarkan situasi sentimen yang menghina riba., dalam judaisme dan kristen, dimana keduanya datang jauh sebelum islam, mereka juga melarang adanya riba. Namun, yang membedakan adalah dalam judaisme, riba diharamkan untuk sesama kaum yahudi, namun ketika berurusan dengan kaum non-yahudi maka riba diperbolehkan. Sedangkan, didalam kristen riba diharamkan, namun tidak semua jenis riba itu diharamkan, hanya riba-riba tertentu saja yang diharamkan, seperti riba tertentu yang dianggap sebagai biaya untuk layanan administrasi, biaya ini tidak dianggap sebagai riba. Dalam perjanjian baru Injil Lukas ayat 34: “Jika kamu menghutangi kepada orang yang kamu harapkan imbalannya, maka di mana sebenarnya kehormatanmu, tetapi berbuatlah kebaikan dan berikanlah pinjaman dengan tidak mengharapkan kembalinya, karena pahala kamu akan sangat banyak.”

Di dalam islam larangan terhadap riba tidak langsung diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala ada empat  tahap dilarangnya riba, berikut tahapan dilarangnya riba dalam Islam :

Tahap pertama :

menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang pada zhahirnya seolah-olah menolong orang yang membutuhkan.

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ                                                       

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Ruum [30]: 39)

 

Tahap ke-dua :

 Riba digambarkan sebagai suatu yang buruk. Allah  mengancam dengan balasan yang keras kepada orang Yahudi yang memakan riba.

 

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا. وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah,   dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 160-161)

Tahap ke-tiga :

Allah mengharamkan riba yang berlipat ganda. Sedangkan riba yang tidak berlipat ganda belum diharamkan. Allah

berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”(Ali Imran 130).

Tahap ke-empat :

Allah  dengan jelas dan tegas mengharam-kan apa pun jenis tambahan yang diambil dari pinjaman baik bunga yang kecil maupun besar. Ini adalah ayat terakhir yang diturunkan menyangkut riba.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”(Al-Baqarah: 278-279).

 

 

Didalam Al-Hadits juga dijelaskan bahwa riba itu dilarang, berikut beberapa haditsnya :

عن ابن مسعود ان النبي صلعم قال : الربا ثلاثة  وسبعون بابا  ايسرها مثل ان ينكح الرجل أمه (رواه  الحاكم)

Dari Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi Saw bersabda: “Riba itu ada 73 tingkatan, yang paling ringan daripadanya adalah seumpama seseorang menzinai ibunya sendiri.”

(Al-Hakim)

الدرهم يصيبه الرجل من الربا اعظم  عند الله  من ثلاثة وثلاثين زينة يزنيها في الاسلام (رواه الطبرانى)                                                                          

“Satu Dirham dari riba yang diambil seseorang, lebih besar dosanya di sisi Allah dari 33 kali berzina dalam agama Islam.”  (HR.Thabrany)

لعن  رسول الله  صلعم   أكل الربا ومؤكله وكاتبه  وشاهديه و قال : سواء   (رواه  مسلم)

Rasulullah Saw melaknat pemakan riba, orang yang membayarnya, juru tulisnya, dan saksi-saksinya. Dia bersabda,”Mereka semua sama.”

(HR. Muslim)

Berbeda dengan riba , Gharar berarti risiko, dimana gharar tidak dapat didefinisikan secara persis. Dalam kadar tertentu gharar masih diperbolehkan. Gharar yang berlebihanlah yang dilarang karena risiko yang tak terkendali berujung pada spekulasi dan perjudian yang harus dihindari. Gharar besar (gharar fahish) diharamkan dan dapat timbul karena :

  1.  ketidakpatian pemilikan atau penugasan
  2. Ketidak memadainya informasi
  3. Kontrak yang saling tergantung dan bersyarat
  4. Permainan undian (maisir atau judi)

Sedangkan gharar yasir (gharar kecil) diperbolehkan seperti :

  1. Ketidakpastiannya besar
  2. Kontrak bersifat derma, seperti wasiat
  3. Ada kebutuhan publik untuk transaksi tersebut.

Maisir atau judi, kenapa dilarang didalam keuangan syariah karena ada ketidakadilan disetiap transaksi tersebut ,dimana setiap transaksi didasarkan pada satu pihak sebagai pemenang dan pihak lain kalah. Konsep ini yang tidak sesuai dengan syariah islam. Selain itu, uang yang beredar di meja judi tak menyentuh sektor-sektor rill. Seperti kita ketahui transaksi yang sesuai dengan salah satu prinsip utama keuangan syariah adalah pembiayaan yang didasarkan pada aset riil.

 

Sumber penulisan ini adalah :

Abdullah, Daud Vicary dan Chee, Keon. 2010. Islamic Finance : Why it makes sense. Singapore: Marshall Cavendish.

Yang diterjemahkan oleh penerbit Zaman. Dengan judul buku : Buku pintar keuangan syariah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s