Keikhlasan membawa sebuah keyakinan dan kehilangan memiliki sebuah cerita indah

Ini sebuah kejadian yang saya anggap “LUAR BIASA” subhanallah, ternyata masih ada orang-orang yang tak memiliki keinginan terhadap kepunyaan orang lain. Ceritanya begini..

12 November lalu, saya pulang dari perjalanan saya berkunjung ke negara tetangga. Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta, saya yang berdomisili di Depok menggunakan angkutan bus umum yaitu damri untuk perjalanan pulang, saya tidak sendiri tetapi berenam. Bersama teman-teman perjalanan singkat itu sangat menyenangkan dan meninggalkan banyak kenangan, baik kenangan lucu ataupun sedih. Sedih saat paspor saya tidak ada kartu embarkasi L. Lupakanlah karena saya ingin bercerita tentang pengalaman yang subhanallah.

Kami berlima yang menuju depok, saya memilih duduk bersama teman perempuan saya di bangku urutan ke-3 dari pak sopir. Ditengah perjalanan sendau dan gurau masih terdengar, hingga satu persatu tumbang lelap tertidur. Saya pun sama, kantuk mulai menghinggapi dan alhasil tidurlah kami semua. Setelah sekitar 30-45 menit perjalanan sang kondektur meminta tiket kami, saya yang masih sedikit sadar karena baru bangun, langsung mengeluarkan dompet dari tas  kecil dan mengambil tiket tersebut, lalu memberikan kepada sang kondektur. Dan saya lupa kejadian disekitar waktu itu..

Tidur lagi lah saya, itu yang saya ingat. Suara pak kondektur terdengar lantang berkata “Pasar minggu, ayoo yang pasar minggu siap-siap” aku bergegas menggendong tas ransel dan langsung turun, mengeluarkan koper dari bagasi dan menstop taksi. Kami menggunakan 2 taksi, didalam taksi kami bertiga, saya duduk dibangku belakang. Perjalanan ke kost saya membutuhkan waktu sekitar 45 menit, ditengah perjalanan kami bercerita tentang hal lucu saat last trip. Ketika akan membayar taksi didepan kostan saya, saya tak menemukan dompet saya. Saya bertanya kepada teman sebangku saya di bus tadi “ Jeng, dompet siray dimana ya??” teman saya panik “apaaa??? Siray kamu simpen dimana tadi??? Coba cek ransel dan koper!!” sergahnya, saya yakin tak ada diransel ataupun koper, tapi tak apalah saya buka. Dan tak ada dompet saya disana.

Teman saya yang satu saya suruh menunggu dikost saya, dan saya berdua dengan teman saya kembali lagi ke terminal bus pasar  minggu, berharap bus kami tadi belum berangkat dan saya masih bisa mengecek apakah jatuh didalam bus. Sepanjang perjalanan saya merasa tenang, itulah hal anehnya, padahal semua uang saya untuk biaya hidup dikostan ada didompet itu semua, ATM, KTP, Paspor,  semua disana, tapi kenapa saya tenang??

Teman saya, melihat kearah saya dan saya jelaskan bahwa “Jika dompet itu hilang, maka in syaa Allah akan diganti dengan yang lebih jeng, entah kenapa siray ko tenang banget ya serasa ga kehilangan dompet…” pak sopir taksipun bercerita pernah membawa penumpang seperti saya, tapi beruntung dompetnya ternyata tertinggal di kamar mandi bandara dan masih ada disana.

Sempat berpikir, mungkin saya kecopetan saat turun dari Bus, karena suasana crowded banget. Tapi astagfirullah, saya kembali memarahi hati saya yang berpikir seperti itu, karena saya yakin apa yang saya miliki hanya titipanNya. Sampai di terminal saya bertanya kepada petugas, tentang bus yang tadi saya naiki, mereka bilang bus nya sudah dalam perjalanan ke bandara lagi. Ditanya banyak pertanyaan dan saya jelaskan tentang kehilangan saya itu, mereka memberikan saya nomer telpon sopir bus yang tadi saya naiki, dan saya menelpon menanyakan apakah ditemukan sebuah dompet perempuan didalam bus tersebut? Dan mereka tidak menemukannya, sang petugas yang saya temui diterminal berkata “ada uang tunainya neng?”, saya jawab “masih pak”, “wah kalau masih ada mah, sulit neng, namanya juga manusia, mungkin kalau dompetnya ditemukan, uangnya sudah tidak ada”, saya hanya tersenyum dan pamit undur diri.

Tapi perasaan saya saat itu seperti tak kehilangan apapun, tak sedikitpun. Kami pulang dan melanjutkan rencana yang sudah direncanakan saat di Bandara, kala itu hujan dan kami bertemu disalah satu mall. Teman saya yang lain sempat tak percaya bahwa saya kehilangan dompet, karena sifat saya yang pelupa, tapi saya memang kehilangan. Dipertemuan itu saya dinasehati oleh teman saya untuk sabar, jangan lupaan lagi, dan tenang, diyakinkan seperti itu saya semakin percaya dan yakin dompet saya akan ketemu.

Banyak yang bertanya tentang kejadian itu, baik teman kelas, bahkan atasan saya di tempat saya parttime pun menasehati karena beliau juga pernah kehilangan dan kembali, tetapi uang didalamnya sudah tak ada. Dari pengalaman beliau, saya menjadi semakin yakin, pikir saya.

6 hari setelah kehilangan saya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu ke kampung saya untuk membuat KTP yang baru, yang akan saya gunakan untuk mengurus pasport baru saya dan dokumen yang lain. Tepatnya tanggal 19 november 2013 saya sampai dikampung dan langsung membuat KTP. Pukul 12 siang selesai mengurus pembuatan KTP baru saya kembali kerumah, dan karena kedua orang tua dijakarta maka rumah kosong saat itu, saya bingung mau kemana, maka saya putuskan untuk kerumah nenek saya sebelum sorenya saya kembali lagi ke Depok. Subhanallah pukul 1 siang ada suara mengucapkan salam didepan gerbang rumah, saya bingung “tamu siapa ya??” pikir saya. Saya buka kan pintu dan saya lihat pak post yang datang, dan memberikan saya surat.

Sebelum membuka surat itu saya, cek alamat pengirim dan alamat berasal dari pasar minggu, saya lemas seketika, berpegang ke gerbang rumah saya bukalah surat itu dan ada potocopy KTP saya yang hilang. Subhanallah, itu surat memberitahukan saya tentang informasi dompet saya, ternyata dompet saya ditemukan oleh seseorang didalam bus, dan mereka berniat mengembalikan dan tertulis didalam surat itu isi dari dompet, dan yang subhanallah lainnya adalah isi dari dompet itu masih komplit, maka saya telpon nomer yang tercantum disana, dan saya beritahu saya sudah menerima surat tersebut.

Bayangkan jika saya tidak pulang dan saya pergi kerumah nenek saya, maka siapa yang menerima surat itu, dan kenapa saya pulang ditanggal itu, lantas saya sendiri yang menerima dan membuka serta membaca surat itu, bukankah itu sebuah keajaiban dariNya atas sebuah keikhlasan saat saya kehilangan.

Alhamdulillah benar isi dari dompet masih utuh seperti ketika terakhir saya lihat di Bandara. Saya berterima kasih kepada keluarga bapak maman dan ibu fattimah  serta mba fatma yang menemukannya dan menyimpan dompet saya saat tertinggal di bus Damri waktu lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s