Permataku,

pink-poppies

Bolehkah aku merenung, menangis dan bersedih? Duhai permata, apa gerangan membuat kau menjadi seperti ini? Lupakah engkau pada impian dan cita yang membumbung tinggi menuju dunia luas yang kau impikan? Lihatlah betapa rapuhnya engkau dengan seperti itu. Biarlah perasaan itu menghambur pergi, engkau tahu bukan bahwa semua sudah indah baik sebelum atau sesudah engkau tahu perasaan itu. Ibu dan ayah itu lebih penting dari pada apa yang kau pikir.

Permataku, jangan kau hancurkan dirimu dengan menjatuhkan diri hingga pecah indah dan mahal mu. Permataku, indahmu bukan untuk dinikmati sembarang, kau lebih dari itu, bukankah begitu? Merenung? Bolehkah? Ketika perenungan untuk menghasilkan sebuah pemikiran jenius dan memberikan kau solusi itu tak apa, tapi jangan jadikan itu sebagai sebuah perenungan untuk masalah perasaan itu. Tak baik. Akan mengganggu aktivitasmu, perhatikan betapa lambatnya engkau sekarang. Kemana permataku yang dahulu penuh energik dan selalu ceria? Inikah engkau yang sesungguhnya?

Oh God, aku tak berharap itu benar. Harapanku padamu itu tinggi, setinggi langit tempat kau melihat mimpi yang kau terbangkan. Menangislah jika itu bisa membuat kau tenang, tapi cukup 5 menit. Tak ada dispensasi waktu. Ingat air mahal dimasa ini. Jangan kau buang begitu saja, hanya karena perasaan yang tak perlu kau sesali dan tak perlu kau tangisi.

Mana? Permataku yang dahulu? Kembalilah engkau untuk menyinariku dengan kerlipan cahayamu. Ingat mimpi itu harus mempercantik mu, bukan menghancurkan keindahan permataku ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s