Tidak semua perasaan harus tergambar, dan tak selalu impian harus berbalas

70-photography-13

 

Tidak semua perasaan ini harus aku ungkapkan bukan? Tidak semua tindakan harus menunjukannya kan? Aku mencoba untuk membiasakan diri membatasi perasaanku. Agar aku bisa terbiasa ketika kelak kau pergi dan mungkin saja melabuhkan cintamu bukan padaku. Walau aku tak tahu apakah engkau yang tertakdir, hampir disepanjang do’a selalu terselip do’a untukmu, ku pinta kau dari tanganNya. Kau tahu, betapa banyak orang yang menerka tentang siapakah engkau? Tentang bagaimana dirimu? Dan tentang kapan waktu kita berjumpa?. Tapi semua pertanyaan itu sia-sia saja, karena aku memilih diam. Aku tertahan digaris jarak untuk menjaga perasaan ini. Saat semua berargument tanpa terjawab hal itu akan cepat berlalu, dan aku dapat kembali berbicara denganmu tanpa harus ada rasa canggung.

Kamu tahu, aku dan engkau bagaikan garis yang bertemu namun tak bertabrakan, untuk waktu sekarang ini, namun untuk waktu kelak, mungkinkah kita masih dapat menghindar jika engkau yang tertakdir untukku dan aku yang tertakdir untukmu? Betapa mudah perasaan ini tumbuh dan terpaut padamu. Kekagumanku kepadamu terus saja tumbuh, aku berharap ini berbalas. Entah kenapa aku selalu ingin memperbaiki diri untuk menjadi seseorang yang pantas untukmu.

Ada sebuah cerita tentang laki-laki dan perempuang, mereka seperti layangan dan benangnnya. Layang-layang menggambarkan laki-laki yang selalu ingin mengeksplore dirinya dan lantas bagaimana layang-layang itu terbang, dibutuhkan benang yang kuat dan berkualitas untuk membuat layang-layang itu terbang. Bukankah dibalik laki-laki sukses pasti ada perempuan hebat, seperti itulah aku ingin menjadi benangmu.

Menghebatkanmu dan mendidik para mujahid dan mujahidah kecil untuk meneruskan perjalanan dakwah ini sangat membuatku lelah, tapi ada engkau yang akan selalu membantuku, aku percaya itu. Dan tak akan terasa lelah pada akhirnya, karena itulah fitrahnya aku sebagai perempuan. Sejujurnya aku takut tak tampil cantik dihadapanmu, tapi aku bersyukur karena kamu tidak menyukaiku berias berlebihan. Dan bersamamu aku menjadi diriku sendiri. Sederhana sekali cita ku untuk mu.

Sesederhana penampilanku begitulah gambaran yang aku nampakkan untuk menjaga aku dan kau. Jangan kau tanya lebih jika engkau belum siap, karena disitu kamu telah melampau batas. Dan aku tak akan bisa lagi menjaga rahasia ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s