KITA (Part 1)

10.01.15 sekiranya malam ini saya sulit sekali memejamkan mata. Entah apa yang membuat saya sulit sekali memejamkan mata tidak seperti biasanya. Dari mana kamu tahu? Kali ini tulisan saya, akan saya mulai dengan kalimat itu. Bukan untuk ‘menggalau’, hanya ada sesuatu yang mengganjal saja dalam benak ini. Ketika aku harus menelan ludah dan berkata “tidak” itu terasa sesak namun itulah cara terbaik. Bukan untuk melindungi diri lantas pergi meninggalkan pertanyaan yang engkau sendiri sulit untuk menjawabnya. Kita adalah dua sosok yang berbeda. Aku sosok yang selalu ada menjadi bayangan dan kamu adalah sosok yang selalu bersinar ketika aku meredup. Lama tak bercakap membuat kita semakin canggung dalam pertemanan ini. Dan membuat sekitar bertanya dan bermain pada logika mereka akan kita. Tak takutkah engkau? Sungguh aku sangat takut. Bahkan terkadang aku harus membantah apa yang sebenarnya ada dalam perasaan ini hanya demi menjaga engkau dan aku. Engkau paham fitnah yang selalu mengintaiku, dan aku paham caramu menghindarkanku dari fitnah tersebut. Namun bukan itu! Dan tidak untuk itu!. Tidak untuk semakin membuat sekitar bertanya pada hati mereka masing-masing.

gambar diambil dari cripsme.com
gambar diambil dari cripsme.com

Aku berusaha bersikap normal dan berpikir tak ada apa-apa diantara kita. Memang begitu faktanya kan? Ahhh… begitu kan faktanya? (Kutegaskan) tak ada apa-apa diantara kita. Dan kamu, yah kamu. Kamu, tak perlu khawatir akan terlontar kalimat dari bibir kelu ini tentang apa yang kau khawatirkan. Pun aku tak ingin terkena fitnah itu. Biarkanlah kita berjalan pada koridor masing-masing tanpa harus memberatkan satu pihak dengan kalimat “Menunggu atau ditunggu”. Ingat kesepakatan tersirat antara kita?

Tak ada kata “Menunggu atau ditunggu” yang ada kita berjalan beriringan tanpa harus khawatir sekitar berpikir “aku menunggumu atau aku ditunggu olehmu untuk berucap”. Bukankah kita sudah sepakat? Yah, ingatkah akan kesepakatan tersebut? Aku berharap kau mengingatnya sebagai hijab diantara kita. Tidak dan bukan sekarang waktunya. Kita sama-sama memiliki impian yang harus digapai terlebih dahulu. Dan engkau sudah dengan jelas memperlihatkan impianmu, pun aku.

Satu pintaku. Jangan bermanis-manis dihadapku karena itu akan menimbulkan seribu tanya untuk sekitar. Bersikap wajarlah. Dan kita akan terjaga dari fitnah. Boleh jadi inilah cara Tuhan menjaga hati kita masing-masing. Dan mungkin saja inilah cara Tuhan menyatukan kita dengan keindahan tanpa perlu bersua dan bersumbar karena kini kita saling menjaga dalam jarak, jarak yang sesekali aku benci karena membuat kita harus jauh antara satu sama lain, hanya bersua melalui media tanpa bisa kita bertatap. Tapi, itulah nikmatnya, dengan begitu kita tak perlu khawaatir akan sekitar, benarkan?

#Part1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s