Risau ??

Hujan diujung hari itu menjadi saksi, biarlah. Dimana perahu ini akan menepi? Setiap perjalanan bukankah selalu meninggalkan rindu? Pun begitu dengan hujan. Ada ketulusan yang mengalir lembut tanpa rekayasa. Namun seketika aku tersadar dan aku memohonkan pengampunan atas apa yang sudah terjadi, semua ini terjadi begitu saja, bukankah kita sudah berusaha mengunci semua pintu rapat-rapat? Bahkan kau buang kunci itu agar tak ada yang bisa membuka pintumu, namun kau kembali berusaha menemukan kunci itu ,kau biarkan mereka menunggu di depan pintu, walau kau akhirnya mengalah dan membuka pintu yang sudah kau tutup rapat-rapat tapi engkau enggan keluar. Biarlah aku seperti ini, katamu dalam sendu. Sudah kukatakan bukan “jangan menitip harap padaku, karena kecewa akan berujung”. Jika pertemuan itu menimbulkan kesan dihati maka aku minta maaf telah membuatmu menjadi berkesan. Jika akhirnya diantara kita saling menunggu waktu untuk bertemu atau mungkin hanya sekedar untuk mengetahu kabar, maka maafkan aku. Kita sama sama manusia biasa yang tak pernah tahu, kenapa waktu terjadi dan mempertemukan kita? Sebelum ini terlalu jauh, aku putuskan untuk menarik diri dan menghindar, semata mata agar ketika kita bertemu canggung tak bertahta, dan kita bisa dengan leluasa berbagi isi ransel tanpa harus merasa ada yang terbebani dan canggung.

Hujan diujung hari itu menjadi saksi, biarlah, lagi lagi kau katakan begitu. Kau katakan dalam do’a meminta untuk ia jangan mendatangi atau mendekatimu dulu, sebelum siap bertahta dalam hati masing-masing. Toh tulang rusuk tak akan tertukar bukan? Kelakarmu dalam hati.

Allahuma inni a’udzu bika min syarri sam’ii, wa min sayrri basharii, wa min syarri lisanii, wa min sayrri qabii, wa min sayrri maniyyi. Aku berdo’a seperti apa yang diajarkan rosulullah shallalahu alaihi wassalam. Akan kubatasi dengan syariatNya ,jika engkau yang dikirimkan Allaah untuk menyempurnakan ibadahku di bumi wa akhirat  kelak, aku redha kini kita saling menjauh. Redha hati ini dengan ketentuanNya akan batas ini. Bukankah batas tercipta agar rindu menjadi do’a dan do’a bertemu dalam singgasanaNya, jadi walau tubuh kita mungkin belum pernah bertemu di bumi pun jika sudah, aku masih percaya do’a kita sudah bertemu di arsyNya.

Daripada merisaukan yang sudah digariskan dan dituliskan dalam lauhf mahfudz bukankah lebih baik mengusahan perbaikan diri?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s