Aku bisa apa kalau topiknya beginian

Tadi sore sekitar pukul 19.20an dosen saya yang mengajar Dasar Financial hadir dan memberikan kuliah disela sela waktu mengajar beliau bercerita tentang manajer terbaik, ia bisa memanajemenkan keuangan untuk satu bulan, dua bulan bahkan setahun dan seterusnya. Ia bisa melihat opportunity cost yang besar dengan ia menjadi seorang manajer. Ia memutuskan keputusannya dengan baik dan benar. Begini ceritanya. Siapakah manajer yang dimaksud? Mari kita simak.

Dosen saya mulai bercerita. Kemarin saya menjemput anak saya dari sekolah dalam perjalan anak saya baik baik sahaja, tidak memperlihatkan gerak gerik mencurigakan, sesampainya dirumah ia langsung memanggil mamanya dan menangis di pelukannya. Saya bingung bukan kepalang kenapa anak ini tadi baik baik saja namun setelah tiba dirumah berubah 180 derajat, pikir saya adakah saya salah tadi selama perjalanan? Usut punya usut malam kami ( saya dan istri ) berbincang dan anak saya menangis karena siang tadi ternyata ia diganggu oleh temannya. Bukan berarti saya tidak bisa mendengarkan anak saya sehingga ia lebih lepas dengan bercerita dengan istri saya. Saya sangat bersyukur istri saya bersedia dirumah dan menjadi Insinyur T ( IRT ) hehehe..  Jadi nih ya buat para perempuan disini nanti jika sudah menikah coba deh hitung hitung opportunity cost nya untuk seorang perempuan, mana yang lebih besar bekerja dan meniti karir atau dirumah dan mengurus rumah dan menjadi sosok yang dirindu ketika anak pulang sekolah ataupun ketika suami kembali dari tempat kerja. Menjadi Ibu rumah tangga itu hebatnya luar biasa, coba bayangin ketika ibu mencuci, memasak, merapihkan rumah, menyiapkan makan malam dan pekerjaan rumah lainnya, jika dihitung kamu (perempuan)  itu melakukan banyak pekerjaan jadi untuk yang laki-laki nanti jangan nanya apa kerjaan istrinya dirumah, banyaaak mas, banyaaak.  Lantas apakah istri itu dilarang untuk berpenghasilan? No, tidak. Jika ia bisa silahkan tapi pekerjaan yang tidak mengorbankan rumah ya, misal jualan lewat on line shop atau buka warung dan lain sebagainya. Coba kalau istri kerja diluar, suami juga kerja diluar ketika pulang yang mau didiskusiin apa? Masalah masing masing dikantor? Tidak mungkin kan ranahnya berbeda. Tapi kalau satu ada yang dirumah jaga gawang rumah maka ya suami pulang bisa minta saran pun sebaliknya.  Perempuan itu manajer terbaik deh, coba perhatikan ibu kita atau istri kita dirumah bisa melakukan POAC ( Planning, Organizing, Actuating, Controlling ) itu kan dasar manajemen, benar ndak?  Waduh ini waktu saya malah saya jadi cerita tentang keluarga ya? Hehehe tapi ndak apa apa kan ya? Toh sebentar lagi kalian akan menikah kan? Emang pada gak mau menikah? Hayooo? Oke kita back to topic ya. Hehehehe.

Selesai dosen saya bercerita tentang keluarganya panjang lebar saya seakan terlempar jauh dari kelas dan seakan keluar, kembali kepada posisi 2 tahun lalu ketika saya masih merasa bingung, untuk apa saya sekolah tinggi jika berakhir di rumah, perdebatan dalam hati kuat dan saat itu saya coba untuk mencari jawabannya sampai detik ini.

Tiba-tiba seorang kawan menepuk diri ini dan bertanya “Siray memangnya seorang perempuan itu ndak boleh bekerja ya? Kalau kamu mau jadi istri  kenapa kamu kuliah sampai level ini? Kan kamu nanti ndak boleh bekerja, Ray?  Pertanyaan kawan saya ini menarik saya kembali ke kelas setelah melayang kembali ke masa dua tahun lalu.

Bismillah jawaban saya seperti ini.

Begini, bukan tidak boleh bekerja, perempuan itu sah sah saja jika ingin bekerja, namun ada batasannya dalam agama kita. Keluar rumahnya seorang perempuan ketika sudah bersuami itu ada di ridha suami, ketika kita belum menikah ada di ridha dari kedua orang tua. Pernah dengar mengenai tempat terbaik ibadahnya seorang perempuan? Tempat terbaiknya adalah di kamarnya di tempat ia tidur, kenapa seperti itu? Karena di rumahnya ia akan aman baik dari fitnah dan lain sebagainya.

Kenapa si ndak di anjurkan bekerja di luar rumah dimana waktunya yang tidak fleksibel misal dari pukul 8 pagi hingga jam 4 sore ( jam kerja ) untuk bekerja di perusahaan atau lain sebagainya , ada beberapa masalah yang menurut saya mungkin bisa muncul, diantaranya adalah sebagai berikut ini:

  1. Komunikasi menjadi terbatas baik antara suami dan istri atau orang tua dan anak
  2. Waktu berkumpul hanya sedikit kemungkinan besar ketika weekend saja
  3. Anak tidak sepenuhnya terkontrol oleh Ibu di rumah
  4. Tingkat cemburu antara suami dan istri akan semakin tinggi karena kedua nya bergelut dengan pekerjaan yang sering tidak memiliki hijab untuk interaksi antara laki-laki dan perempuan atau sebaliknya.

    Jika suami sudah dapat mencukupi kebutuhan keluarga alangkah lebih nyamannya seorang istri tetap berada di rumah, namun jika memang belum mencukupi bisa di diskusikan seperti apa kedepannya. Jikapun tetap ingin bekerja diskusikan terlebih dahulu dengan suami, apakah sekiranya kedepannya akan mendatangkan masalah ataupun tidak, jika dikemudian hari menimbulkan banyak masalah untuk keluarga, bijaknya redam ego untuk terus meniti karir, kembali ke rumah dan bangun pondasi keluarga yang kuat selagi suami mencari nafkah. Nafkah itu cukup jika kita bersyukur.
    Saya dahulu 2 tahun lalu masih bimbang apakah nanti saya akan bekerja setelah menikah dan memiliki anak atau saya memilih untuk menjadi istri atau ibu seutuhnya di rumah. Hari ini belum bisa saya jawab karena saya sendiri belum menikah, kelak akan saya perbaharui tulisan ini setelah saya menikah, insyaaAllaah.

Saya bukannya tidak suka kepada perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak mereka tetap menjadi perempuan yang hebat bekerja di luar dan bisa tetap menjadikan anak anaknya sukses di dunia sosialnya, tidak. Sama sekali tidak. Namun tidak semua perempuan dapat membagi waktu seperti itu, jadi kalau dicoba kemudian hari terjadi masalah yang timbul maka bisa di diskusikan tapi jika sudah tidak bisa bijaknya kita sebagai seorang perempuan meredam ego untuk meniti karir diluar dan memilih kembali ke rumah.

Menjadi Ibu rumah tangga seutuhnya itu juga sebuah pekerjaan yang nilainya sangat tinggi. Pernah saya mendapat cerita dari seseorang yang saya anggap beliau adalah seorang perempuan yang hebat, langkahnya panjang dan wawasannya luas. Namun setelah mendapat posisi jabatan tinggi di perusahaan tempatnya bekerja beliau merasakan ada yang kurang dalam hidupnya dengan hebatnya dan ikhlasnya beliau melepas semua jabatan tersebut dan sekarang memilih untuk di rumah menjaga anak dan mengurus suami. Sambil sewaktu waktu ia menyalurkan hobinya bekerja dengan memilih menjadi tenaga pengajar disebuah universitas karena waktu yang fleksibel.

Coba kita tengok negara negara maju yang sekarang sedang mengalami krisis keturunan karena banyak diantara perempuan tidak ingin memiliki anak karena masih ingin meniti karir dan lain sebagainya walaupun ia sudah menikah tapi memilih untuk tidak memiliki anak, hingga negara membuat kebijakan untuk memberikan tunjangan kepada perempuan yang mau memiliki anak dan mau tinggal dirumah.

Hasil kuliah dasar financial tadi sore. Ini hanya sekitar 15 – 20 menit saja intermezo nya kok ^_^ semoga bermanfaat ya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s