Ternyata saya jatuh,

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, selamat siang para readers dan para penulis, hari ini saya mau menulis tentang hal yang pernah saya tulis sebelumnya yang berjudul ‘ Kenapa Izzah dan Iffah seorang muslimah harus dijaga?’ , terimakasih untuk 425 akun yang sudah menshare di akun facebook nya dan sudah memberikan komentar yang membuat saya menjadi antusias menulis lagi. Kali ini saya akan menulis tentang ‘ Ternyata Aku Jatuh’ , yukk langsung di simak ya.

Remaja, begitu lah saya, remaja menuju dewasa lebih tepatnya si hehehe. Walau menjelang dewasa tetap saja dirumah saya adalah anak kecil karena anak terakhir. Ini adalah fase yang saya takutnya selama ini, fase dimana mudah ‘Jatuh’ jatuh pada apapun itu yang menarik hati dan menyenangkan sehingga membuat bersemangat bukan hanya dalam keseharian namun membuat semakin bersemangat bertemu dalam lima waktu untuk menceritakannya dan mendo’akannya. What the? apakah ini sehat? kok baru bersemangat ketika ada yang ingin diceritakannya adalah hal yang menarik hati dan pikiran hingga tak jarang menjadi sulit berkonsentrasi.

Ternyata saya jatuh, ya jatuh pada hal yang saya sendiri tidak mengerti dan saya takutkan selama ini. Bagaimana kalau dengan saya jatuh tersebut saya sudah membawa orang lain untuk jatuh juga ketika ternyata belum siap? atau bagaimana jatuhnya kita harus dihempaskan lagi dan berdebum ditempat lain? Bagaimana kalau ternyata saya nyatanya juga belum siap untuk jatuh?

Ternyata saya jatuh dan membuat orang lain terzalimi dengan merasa terbebani itu juga salah satu hal yang membuat saya takut. Saya hanya tahu bahwa jatuh ‘dalam konteks ini’ adalah hal yang wajar untuk laki-laki maupun perempuan memang sudah kodratnya pada suatu waktu nanti akan terjatuh dan menjatuhkan pilihan kemana dan dengan siapa.

Pertanyaannya adalah, sudah siapkah saya dihempaskan? sudah siapkah kita dengan dunia mengetahui? sudah siapkah kita dengan semua konsekuensinya? atau kita hanya menikmati peningkatnya zat dopamin? atau kita hanya terhipnotis dengan sekitar yang sudah terbiasa ‘jatuh’ diluar aturan?

Pertanyaan pertanyaan tersebut akhirnya membuat saya mencari tahu kembali hakikat dari ‘jatuh’ yang saya alami. Dan sedikit yang ingin saya share disini adalah mengenai pencarian yang saya lakukan. Apakah ketika kita ‘jatuh’ kita salah? kita berdosa? dan kita harus mengungkapkan jatuh tersebut?

Pertama, Jatuh tidak lah salah, jika engkau menggunakan cara yang benar, karena apa? memang kodratnya secara alamiah setiap manusia akan merasakan fase tersebut. Yang membedakan adalah apakah ia menjatuhkannya dengan cara yang benar atau mengikuri nafsu semata? tak jarang yang kedua adalah pilihannya namun tak sedikit mereka yang tetap teguh memegang prinsip cara yang benar. Entah bagaimana ia harus bertindak ketika bukan keluarga yang mendesaknya untuk segera mengakhiri masa sendirinya namun tetangga dan lingkungan yang selalu punya opininya sendiri. Namun tetap teguh untuk tidak memilih cara yang salah. Ia tetap berdo’a , yakin dan percaya bahwa Tuhan sedang menyiapkan orang terspecial untuknya, jika ia bisa lulus dalam ujian ini.

kedua, ia yang tidak kuat untuk berperang dengan perasaanya ketika jatuh maka ia akan mengambil cara kedua yaitu mengutarakannya tanpa mengindahkan syariat yang diberikan. Ia melanggar hal tersebut. Merasa senang dan nyama telah mengobati rasa jatuhnya dengan mengungkapkan secara langsung walau dalam kesiapannya untuk melangkah lebih lanjut ternyata belum memumpuni . Ia bersenang akan pengobat jatuh hatinya tersebut namun tanpa disadari ia sedang menggali rasa sakit yang lebih berat dibanding dengan mencoba menahan diri, sewaktu waktu tali temali yang terjalin untuk mengobati rasa jatuh tersebut yang belum di kukuhkan dalam ikatan halal kemudian harus pupus sebelum janur kuning  melengkung dan ijab qabul terucap maka sakitnya itu pasti sangat menyiksa.

Jujur saya sendiri alhamdulillah belum dan tidak ingin merasakan rasa sakit yang luar biasa karena saya belum mampu untuk hal tersebut dan saya memilih untuk tidak mendekatinya. Saya masih percaya dan yakin ketika saya lulus ada hadiah yang begitu indah yang akan mengobati rasa jatuh ini tentunya dengan cara yang benar.

Disini saya bukan ingin menasehati atau mendeskriditkan mereka yang memilih jalan kedua, hanya saya selalu tidak tega melihat mereka yang ternyata kehilangan obat jatuhnya dan belum siap karena cara yang kurang benar maka siapa hendak disalahkan? Saya belum siap untuk merenung sepanjang hari atau bertemu dengan pengobat namun semakin menggali rasa sakit.

Jika kita kembali menelisik lebih dalam tentunya ayah dan Ibu pernah merasakan rasa jatuh tersebut dan mendapatkan bahwa masing-masing adalah pengobat. Pernahkah kita bertanya, bagaimana cara mereka memutuskan untuk saling mengobati? saya yakin beliau-beliau menggunakan cara yang benar. Tak jarang saya menanyakan kepada kakek dan nenek apakah beliau mengobati rasa jatuh tersebut dengan mengikat diluar ikatan halal? nyatanya setelah perjalanan pernikahan yang tidak sedikit hampir diatas 50 tahun beliau mengatakan ‘obat itu hadir bukan karena kita mengikat diluar ikatan halal, tapi obat itu hadir ketika ikatan halal sudah ditangan, hati tentram dan nyaman’ dan ketika saya tanya ‘Apakah mengobati perlu dengan obat yang seperti pada masa ini? jika belum siap’ lantas kakek dan nenek menjawab ‘ Kakek memilih nenek menjadi pengobat dan langsung mengutarakan kepada sang pemilik nenek wali nenek di bumi yaitu ibu bapak beliau, ketika sudah direstui maka keyakinan bahwa nenek adalah pengobat itu semakin kuat, walau keraguan setiap hari semakin membuncah linier dengan perasaan yakin tersebut, tapi hingga kini kami masih baik baik saja’.

Ternyata saya jatuh,

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s