Nasihat itu datangnya dari mana saja, ini salah satunya, Terima Kasih Pak.

Sore itu ketika sedang dalam perjalanan menuju kampus karena sendiri dan dihitung lebih hemat menggunakan ojek maka saya memutuskan untuk menggunakan ojek online. Saya order dari daerah manggarai dengan tujuan salemba. Tak lama setelah saya order, HandPhone saya berdering dan saya langsung mengira bahwa itu adalah telpon dari driver ojek. Dari seberang sana terdengar ucapan pertama kalinya adalah “Assalamualaikum Mbak, Nganu saya di dekat pos polisi ya [1]”, mendengar kata ‘Nganu’ saya langsung menebak bahwa driver saya berasal dari jawa, sayapun menjawab “Waalaikumussalam, Enjih pak kulo menuju teng lokasi njih [2]”, mendengar saya menjawab dengan bahasa jawa si Bapak kemudian mengakhiri telepon dengan “Enjih Mbak, matur suwun [3]”.

Setelah berjalan kaki sekitar 3 menit saya menemui Bapak tersebut dan kemudian saya langsung dipersilakan naik motor si Bapak. Bapak tersebut kemudian bertanya “ Nganu Mbak, ngapuntene niki dadose ngangge bahasa jawi, lah Mbak’e saking pundi njih? [4]” saya jawab “Mboten nopo nopo Pak, kulo saking Banjarnegara [5]”. Mendengar jawaban saya, saya melihat bapak tersebut menggelengkan kepalanya diikuti kalimat “Ndak mungkin Mbak’e saking mriku asline, tak kira Mbak’e saking Surabaya nek mboten nggih daerah Solo opo semarang, logate Banjarnegara kan ngapak, lah Mbak’e alus tenan, ngapuntene njih mbak” [6]. Seketika saya tertawa dan menjawab “ Kulo asline Banjarnegara namung saking kecil tinggal teng Jakarta, lah saiki kulo seg sinau bahasa Jawi sing alus, rencangan kulo saking Suroboyo, Semarang, Jogja, dadose njih logate kulo niki berubah”[7]. Si bapak pun tertawa. Sampai di perempatan Matraman saya membuka pembicaraan kembali “Bapak kulo nek ngomong kalih bahasa alus sebenere njih kesulitan nek kulo campur kalih bahasa Indonesia, mboten nopo-nopo  njih”[8] saya kemudian membuka pertanyaan pertanyaan terkait bagaimana awal mula bergabung menjadi ojek online, kemudian bagaimana konsep kerja disana, dan bertanya juga terkait honor bonus, dengan tetap berusaha menggunakan bahasa jawa yang halus. Si Bapak dengan senang hati menjawab pertanyaan saya sambil sesekali diselingi tawa.

Sampai di pertengahan perjalanan Si Bapak driver berbicara kembali ‘Mbak’e ngingatken kulo kalih putrine kulo sing saiki teng jawi, nek Bapak olih saran njih Mbak’e, nek kulo mau kasih saran kalih Mbak’e niki suarane Mbak’e kehalusan, ampun kados niku njih Mbak, soale nek tiang perjaka sing ngerungu niku bisa nggawe perjakane salah pikiran mboten fokus, nek terlalu alus, nopo sehari hari Mbak’e njih kados niki?”[9]. Seketika saya bingung, halus dari mananya ya? Saya coba bertanya “Walah, kados niku njih Pak? Tiap dinten nggih kulo kados niki [10]” kemudian si Bapak nyambung lagi “Njjih Mbak, nek kehalusan njih mboten apik ngge Mbak’e nanti jadi pada salah fokus kalau Mbak’e suarane ngados niku, kulo njih ngapuntene ngomong kados saiki soale kulo gadah putri juga seusia Mbak’e saiki nggih fitnah niku kejam untuk perempuan akhir zaman, lebih mbak’e durung gadah suami, ngapuntene nek lancang njih Mbak”[11]

Processed with VSCOcam with hb1 preset

Mendengar saran beliau saya tidak marah, betul sekali memang fitnah untuk wanita akhir zaman itu kejam, dan I got the point ternyata selama ini penjagaanpun masih belum sempurna, masih ada celah. Dan nasihat itu datangnya dari manapun. Saya malah berterima kasih sekali kepada Bapak driver tersebut yang memberikan saran kepada saya seperti itu. Jadi untuk perempuan akhir zaman itu harus lebih ekstra menjaga diri. Dari sisi manapun kalian itu tetaplah diciptakan dengan keindahan yang Allaah sendiri dengan kuasanya mencipta.

.

.

.

Untuk yang tidak mengerti bahasa jawa saya coba translet ke Bahasa Indonesia ya, berikut ini:

[1] Assalamualaikum Mba, saya lokasinya di dekat pos polisi (Nganu dalam bahasa Jawa terkadang tidak memiliki arti, seperti ketika kita berbicara ‘anu’ atau kadang juga bisa bermakna maaf)

[2] Waalaikumussalam, baik saya kesitu ya Pak

[3] Baik, terima kasih, Mbak

[4] Maaf mbak, ini jadi pake bahasa jawa, mbak jawanya dari daerah mana ya Mbak?

[5] Tidak apa apa, saya dari daerah Banjarnegara

[6] Ndak mungkin Mbak asalnya dari sana, saya kira mbak berasal dari Surabaya kalau tidak dari daerah solo atapun semarang, logat Banjarnegara kan ngapak, Mbak halus sekali, maaf ya Mbak.

[7] Saya asli dari Banjarnegara tapi dari kecil tinggal di Jakarta, sekarang ini saya sedang mempelajari bahasa jawa yang halus, teman saya dari Surabaya, semarang, jogja jadi logat saya ini berubah.

[8] Bapak saya jika berbicara bahasa jawa yang halus sebenarnya ya kesulitan, kalau saya campur sama bahasa Indonesia tidak apa apa ya Pak.

[9] Mbak, mengingatkan saya dengan putri saya yang ada di Jawa, kalau Bapak boleh saran ya Mbak, Kalau saya mau kasih saran ke Mba ini suaranya kehalusan, ampun seperti itu ya Mbak, soalnya kalau orang perjaka yang mendengar itu bisa membuat salah fokus, kalau terlalu halus, apa Mbak sehari hari juga seperti ini?

[10] Walaahh, seperti itu ya Pak? Setiap hari ya saya seperti ini

[11] Iya Mbak, kalau kehalusan ya jangan, tidak baik untuk Mbak nya nanti jadi pada salah fokus kalau Mbak suaranya seperti itu, saya ya minta maaf ngomong seperti itu karena ya saya memiliki putri yang seusia dengan Mbak, sekarang fitnah itu kejam untuk perempuan akhir zaman, lebih Mbak belum memiliki suami, mohon maaf ya Mbak kalau saya lancang.

Keterangan: Gambar diambil dari google.com

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s