Napak tilas di Semeru, (Part 1)

Perjalanan ini terasa sangat lama dan dalam kabut dingin. Begitu banyak nasihat para pendaki untuk mereka yang sedang melakukan perjalanan. Yang paling saya ingat adalah ‘Jangan selalu melihat keatas ya, terlalu tinggi nanti kamu takut menggapainya. Tapi berjalanlah dengan menunduk. Atur napasmu. Dan latih iklasmu. Tau-tau nanti sudah sampai post akhir’

Setelah setahun berlalu, maaf baru di publis ya.

20160506_083313 - Copy

Hallooo, apa kabar semua? Hari ini saya ingin menulis mengenai pengalaman long weekend saya dan teman teman saya pada bulan mei 2016 . Apa aja si keseruan kami dan kemana aja kami selama hampir 7 hari? Penasaran? Kuy mari beri sedikit waktu saya untuk menuangkan dalam tulisan di blog ini. Pertama sebelum hari keberangkatan, malam itu saya lupa tepatnya kapan saya dan teman kosan merencanakan untuk berlibur pada long weekend yang dimulai dari hari kamis hingga minggu (5-8 Mei 2016). Sebagai anak kosan inginnya si pulang kerumah, hehehehe tapi apa daya dorongan hati untuk berpetualang sama besarnya, dengan sedikit merayu dan mengambil hati orang dirumah alhamdulillah restu di dapat. Tak mau menyia nyiakan waktu langsung sajalah kami membuat group di Whatsapp (Read, WA). Dalam group itu terdapat sekitar 13 orang yang akan melakukan perjalanan ini. Tak mau kehabisan tiket kereta malam itu juga kita membuat kesepakatan untuk membuat komitmen dengan membeli tiket pulang pergi ke lokasi tujuan. Alhamdulillah setelah semua personil di kerahkan untuk mencari tiket, kami ber 13 pun mendapatkan tiket kami. Tibalah 2 minggu sebelum keberangkatan beberapa teman kami qadarallah tidak dapat melanjutkan perjalanan pada hari yang sudah di tentukan dikarena beberapa tanggung jawab yang memang tidak bisa di tinggalkan. Alhasil yang tersisa hanya 9 orang hingga hari keberangkatan. Kami memutuskan untuk berangkat di tanggal 4 mei melalui stasiun senen. Kereta kami berangkat pukul 15.15 dan semua personil berhasil sampai di stasiun sekitar pukul 14.30.  Teman baru, belum kenal lama sebelumnya tentu masih ada canggung, pastinya. Mencoba mencair dalam suasana yang sudah ada di depan mata. Alhamdulillah tidak terlalu sulit kami mencair dalam satu kondisi. Priiitttt bunyi pluit dari penjaga peron kereta yang menandakan bahwa kereta akan segera meluncur, saat kami menoleh keatas hampir semua yang terletak disana adalah tas gunung dengan ukuran bervariasi, dari 45L sampai >60L dan dibungkus dengan rain cover berwarna warni, suasananya ramai sekali dan menyenangkan. Perjalanan 16 jam akan kami lalui bersama dalam malam pertama kami bersama tanpa sebelumnya kami saling mengenal semua, karena memang ada yang sudah mengenal lama ada juga anak baru seperti saya.

Oke rasanya intro cerita udah panjang banget ya, yang bosen bisa langsung skip yang penasaran kuy mari lanjutkan hingga cerita berakhir. ^_^

First Day, 4 Mei 2016

Meeting poin kami adalah stasiun pasar senen pukul 1 siang karena kami akan repacking carrier kami masing masing, namun namanya janji ya kadang meleset sedikit itu wajar ya, kami baru bisa berkumpul seluruh tim itu pada pukul 14.30 karena tidak sempat repacking diluar kereta kami memutuskan untuk repacking di dalam gerbong saja nanti. Oke mari kita perkenalkan tim Tahu Bulat dan Premium, hahahah kenapa namanya Tahu Bulat? Entahlah mungkin karena lagi in banget di daerah Depok dan sekitarnya yang tiap hari ada aja ost dari si abang abang Tahu Bulat, dan kenapa premium? Nanti akan saya ceritakan itu berawal dari diri saya sendiri soalnya. Whehehehehe…

Tepat pukul 15.15 kereta Matarmaja melaju dari st. Senen menuju st.Malang, disini kayanya pembaca udah tau nih mau kemana kita, hehehe lanjut ya ceritanya. 16 jam itu bukan waktu yang sebentar ya, kami ber 9 duduk terbagi menjadi 3 kubu tapi tetap berdekatan. Oke mari kita mulai perkenalkan satu satu siapa saja personilnya, ini dia taraaaaaa….

Rasanya itu perjalana tak ada hentinya kepala dan leher sudah jungkir balik rasanya di dalam kereta tapi ko ya belum sampai sampai juga di lokasi tujuan. Dari bangun rame rame, tidur sendiri sendiri, bangun tidur bangun tidur, posisi kanan posisi kiri rasanya ndak ada yang PW (Red: Posisi Wenak). Tapi kami gak diem dieman gitu aja, biasa anak muda pasti bercanda kan ya, whehehehe yang ngerasa anak muda pasti taulah gimana perasaanya ketemu orang baru dan mau melakukan perjalanan baru bersama ada yang sedikit diem tapi lama lama berisik juga, ada yang dari awal udah berisik makin malam makin menjadi, ada yang asik sendiri karaokean ada yang sibuk bantu temannya repacking ada yang nyariin cemilan sana sini. Bisa dibayangkan gimana keadaaan bangku kami? Agak lebai si tapi begitulah yang bisa mata ini tangkap. Saya yang duduk di dekat jendela berusaha melepaskan kecanggungan saya dengan mencoba masuk dan mencair bersama dalam tawa canda, alhamdulillah tak butuh waktu berlama lama kami semua cair.

Alhamdulillah jam tangan menunjukan pukul 07.15 dan suasananya itu sudah terang benderang di luar kereta, terus gimana dengan shalat subuhnya? Ya shalat dong di dalam kereta. Masuklah stasiun Malang lama, leader kami Bang Adhi tiba tiba kami tengok tak ada dibangkunya dan carrielnya juga entah raib kemana, bergegaslah kita semua yang tadinya lagi cekikian ketawa tawa langsung panik dan siap siap keluar dari gerbong, eh taunya keretanya jalan. Panik. Yess pastinya. Karena yang sudah pernah ke lokasi dan tau turun dimana mananya adalah bang Adhi. Kami ber8 pikir St. Malang lama adalah tujuan terakhir dari kereta ini, sehingga turun belakanganpun tak apa, taunya ada stasiun selanjutnya. Buru burulah ka Regie meraih telpon genggam dan menelpon Bang Adhie dengan saya yang masih menahan tawa atas kekonyolan kenapa tidak bergegas dari 15 menit lalu untuk keluar kereta, bagaimana jika jarak antara stasiun malang lama dan stasiun malang baru itu jauh, tak bisa dibayangkan huaaaaa. Beberapa tas besar yang tadinya bertengger diatas pun sudah pergi turun kereta bersama tuannya. Tiba tiba kami melihat, sesosok orang yang rasanya kenal dengan topi dan tas biru itu, ternyata bang Adhi belum turun dari kereta dan masih menunggu di pintu keluar kereta karena mendapat saran dari petugas untuk turun di st. Malang baru. Seketika panik berbuah tawa.

Awalan saja sudah ada kejadian begini bagaimana nanti akhirnya? Kuy mari kita lanjut ya.

Sampai di stasiun malang baru kami mencarter angkutan umum untuk menuju pasar tumpang, harga carter angkutan disini sekitar 135.000an untuk satu mobil. Pukul 8 lewat kami berangkat dari st. Malang baru ke pasar tumpang dengan berhenti sebentar di mini market untuk membeli perlengkapan kelompok yang memang sengaja kami jadwalkan pembeliannya di malang. Sekitar 15 menitan kami berhenti. Sekitar pukul 9.15 kami sampai di pasar tumpang. Karena ada beberapa yang kena serangan fajar (Red: Sakit perut) maka kami pencar ada yang menemani mencari toilet ada oula yang membeli sayur dan ada  yang menunggu carriel kami. Sebelumnya kami sudah mencalling driver jeep untuk mengantarkan kami dari pasar tumpang ke ranu pani, karena jika tidak di musim long weekend seperti ini bisa bisa kami tidak mendapatkan driver. Sekitar pukul 1 siang driver jeep kami mas rudi sampai di pasar tumpang dan kami segera menaikan carriel kami ke jeep tersebut. Heii pembaca sudah bisa ditebak dong kami ber9 ini mau kemana? Selama 7 harian? Yupss betul kita mau melakukan pendakian ke semeru dan summit ke Mahameru.

Dari tumpang ke Ranu Pani kami menyewa jeep sekitar Rp.650.000 untuk 1 jeep sekitar pukul 1.30 siang kami berangkat dari pasar tumpang ke Ranu Pani dan sampai di Ranu Pani pada pukul 3 sore kami sampai di Ranu Pani. Owh iya ada kejadian sedikit lucu dan konyol dalam perjalanan. Jeep kami adalah jeep tertutup yang untuk bagian belakang itu muat sekitar 6 orang ukuran kecil dan 2 orang di depan jadi kalau ditotal hanya akan muat untuk 8 orang penumpang dan 1 driver. Sedang jumlah kami adalah 9 orang, akhirnya ditengah perjalana dua kawan kami yaitu ka Pacitan dan Ka Edwin memutuskan untuk duduk di atas jeep, baru sekitar 30 menitan di atas jeep hujan mengguyur dan lokasi tinggal sekitar 15 menitan lagi sampai di Ranu Pani, kami yang berada di dalam melihat hujannya tidak deras hanya rintik rintik biasa saja dan kami belum tau bagaimana suhu diluar karena ada sinar matahari maka kami kira suhunya pun tidak akan membuat orang menggigil. Sayup sayup berlomba dengan suara jeep terdengar ada yang meminta untuk turun namun posisi tinggal sekitar 100 meter lagi sampai di parkiran jeep. Dan si driverpun terus melanjutkan perjalanan. Sampai di parkiran dua kawan kami itu turun dari atas jeep dengan kondisi badan berasap dan mengigil dan kami sebagai kawan as always ketawa dahulu baru membantu, hehehehe maaf ya ka pacitan dan Ka edwin. Kami kira derita mereka di atas hanya kedinginan ternyata tidak mereka juga berjuang dengan ranting ranting pohon yang dilewati. Kebayang kan gimana perjuangan mereka di atas jeep ketika treck nya meliuk liuk di bawah misbar (Red: Gerimis bubar)

Setelah perjalanan sekitar 2 jam menggunaka jeep, alhamdulillah kami sampai di Ranu Pani sekitar pukul 4 sore, dan karena masih gerimis kami memutuskan untuk menunggu sedikit reda di dalam jeep sambil bersendau gurau menghibur dua jagoan yang kehujanan di atas jeep tadi (Lebih tepatnya si ngeledekin dulu baru nolongin). Setelah itu kami langsung menyerahkan berkas untuk mendapat kuota simaksi, yaitu kuota untuk pendakian setiap harinya ke Semeru. Setiap hari hanya terdapat kuota sekitar 650 pendaki saja. Kebayang kan long weekend gimana crowded nya semeru, berasa ada konser adam levin di atas sana. Karena tak memungkinkan kami melakukan perjalan malam hari dan tidak adanya kuota maka kami memutuskan untuk mendirikan tenda di Ranu Pani.

Untuk waktu pendakian di Gunung semeru itu maksimal itu jam 4 sore karena jika malam hari dikhawatirkan pendaki akan bertemu dengan penghuni liar gunung semeru yaitu Macan Tutul, sudah banyak cerita pendaki yang berhadapan langsung ketika melakukan pendakian malam hari. Untuk menghindari itu Saver tidak mengizinkan kami para pendaki melakukan pendakian malam hari. Walau sebenarnya enak melakukan pendakian malam hari, pertama tidak panas, kedua jadi menghemat air, tapi kesulitannya berlipat ganda. Dari pencahayaan yang terbatas, kemudian risiko bertemu hewan liar malam hari lebih besar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s