Tentang Syukur, Her Story (Terima kasih atas ceritanya, Part 1)

Tentang, Syukur (Her Story)

Hari ini aku duduk di hadapan seorang perempuan muda yang bertemu dengan sedikit janjian. Entah awal mula berbincang perihal apa, hingga berakhir dengan topik ‘Syukur’, rasanya baru kemarin aku membaca dan mempelajari dengan sedikit hati berberat akan hasil yang kuperoleh. Merasa menjadi orang yang salah, menjadi bodoh dan lambat serta apa yang didapat tak setimpal dengan pengorbanannya, lebih tepatnya ‘lebih banyak keluhan dibanding syukur’. Hingga hari ini jalan Allaah mempertemukanku dengan perempuan muda yang hidupnya masyaaAllaah penuh syukur.

aaaaaaa

Pertemuan kami tidak intens apalagi terencana, kadang hanya sapa hallo seperti orang lalu lalang pada umumnya. Hari ini disela tuntutan deadline, aku membuka pertanyaan yang memang agak sedikit sensitive terkait keputusannya menikah dengan orang yang tidak ia kenal secara fisik. Perkenalan yang ternyata bermula dari Ibunya yang kenal laki-laki yang jauh berbeda pulau yang wajahnya saja tidak pernah ia lihat. Hanya sesekali telpon dari sang Ibu yang kemudian dialamatkan kepadanya. Kedatangannyapun untuk mempersunting adalah hal yang tidak pernah diduga oleh perempuan tersebut. Singkat cerita pernikahan terjadi karena restu Ayah langsung terkantongi. Feeling seorang Ayah biasanya selalu benar terhadap laki-laki yang telah merebut hati gadisnya untuk ia serahkan kehidupan dunia dan akhiratnya.

Pernikahan yang dibayangkan si perempuan adalah pernikahan yang sering diceritakan kisah romantisme audio lewat lagu, visualisasi melalui film, ternyata semua tak seindah lagu yang bersenandung dan tawa yang terlihat dalam kotak hitam yang kita sebut Televisi. Semua berbeda. Ia yang bukan berasal dari orang dekatpun memiliki sikap yang pastinya perlu dengan sabar ia pelajari. Perlu dengan detail ia ingat, apa kesukaannya apa ketidaksukaannya. Bukan hanya ia yang belajar namun sang suami pun sama juga keluarga begitu.

Ujian yang datang begitu cepat tanpa bisa dicegah nanti saja hadirnya. Ketika semua kebutuhan dapur harus diatur dari satu ladang pencarian ketika itu juga dibukakan pintu rezeki lainnya yang membuat kebutuhan hidup selama ini tercukupi dimana secara hitungan manusia pastilah tidak mungkin terpenuhi. Suatu bulan uang yang ia dan suaminya dapatkan hanya Rp.600.000 itu sudah harus dipotong oleh kebutuhan dokter sekitar Rp.200.000 sehingga biaya hidup dalam bulan itu hanya bisa di cover oleh uang Rp.400.000. Pusing, pastilah sebagai menteri keuangan di rumah, bagaimana harus di penuhi kebutuhan hidup berdua dalam sebulan tersebut. Hitungan manusia selalu ‘cetek’ nyatanya pada bulan tersebut tak pernah diduga ada rezeki lain yang datangnya tanpa pernah dikira, dan kehidupan sebulan itu berjalan dengan baik.

Selanjutnya, suatu hari perjalan menemui keluarga sang suami yang jauh berbeda pulau pastilah membutuhkan biaya yang tak sedikit. Demi mengobati rindu terhadap keluarga sang suami mereka berdua mengumpulkan keping keping uang yang bisa disimpan, singkat cerita terkumpulah untuk membeli tiket ke wilayah nan jauh di mata. Perhitungan yang meleset kembali terjadi, tiba hingga minggu kepulangan kembali ke kediaman di tanah jawa, ternyata uang yang tersisa hanya Rp.1.500. Saya yang mendengar sampai ternganga tak habis berpikir, bagaimana harus membeli tiket pesawat untuk kepulangannya. Namun lagi-lagi kuasa Allaah itu luar biasa, tak disangka hari itu ia lihat M-Banking memperlihatkan saldo masuk beberapa ratus ribu dan ada transferan dari nomer rekening yang tidak diketahui siapa tuannya. Kepulanganpun dapat terjadi walau hanya bisa membeli satu tiket, lantas untuk sang suami bagaimana? Cinta seorang ibu pastilah luar biasa, ditengoknya simpanan sang Ibu dan diberikannya kepada anaknya, MasyaaAllaah menetes air mata tanpa bisa tertahan sore tadi.

Saya kembali bertanya kepadanya ‘Apa yang menyebabkan kamu yakin untuk menikah dan bagaimana kamu mengatur kehidupan yang serius saya sendiri tak pernah membayangkannya’. Ia duduk di depanku sambil terus tersenyum dan berkata lirih ‘Allaah memiliki kuasa, entah kenapa Ayah berkata iya ketika ia datang menjelaskan maksud dan tujuan pada pertemuan pertama ke rumah, mungkin itu yang membuat saya yakin, mengatur kehidupan ini ya pastinya pusing, hanya ada satu pos penghasilan untuk saat ini, namun Allaah cukupkan itu selalu. Tepat hari ini, nominal yang masuk ke nomer rekening saya adalah jumlah yang fantastis untuk saya, dimana biasanya hanya 1/5 dari jumlah ini’. Saya sedikit menegas maksud dari 1/5, ia jelaskan bahwa penghasilnnya itu masihlah fluktuatif pernah hanya 400ribu satu bulan, 600Ribu, 900ribu dan pernah juga menyentuh jumlah ‘Jutaan’.

Dengan sabar ia menjelaskan bahwa ‘Segala sesuatu itu sudah diatur’. Saya kemudian menangis dan berkata ‘Kamu mengajarkan saya makna bersyukur, beberapa bulan ini saya merasa bahwa apa yang saya terima jauh dibanding apa yang saya lakukan, walau tak bisa dimungkiri bahwa kebutuhan pokok setiap bulan terpenuhi, tak luput juga untuk Ibu Bapak. Walau saya tak pungkiri, perhitungan saya selalu meleset, saya menghitung tak akan cukup pada akhirnya, namun beberapa kali ketika masa sulit ada saja nominal yang masuk dalam nomer rekening yang saya juga tidak pernah duga’. Yang membedakan saya dengan kamu adalah, kamu sudah bisa menemukan bagaimana cara bersyukur yang khusyuk, sedang saya masih mencari alasan terkuat yang pada akhirnya selalu terpatahkan oleh perhitungan matematika nya Allaah.

 

NB: Cerita ini sudah mendapatkan izin dari perempuan penuh syukur tersebut, this is based on true story. Kenapa saya menulisnya? Untuk berbagi bahwa jangan lupa untuk bersyukur dan terus mencoba bersyukur, jangan takut ketika akan melakukan niat mulai. Materi bisa dan ingat waktu tak akan kembali. Laksanakan cita agung nan mulia apapun itu, tugas kita serahkan semuanya kepada sang Pencipta ketika kita sudah mengusahakan yang terbaik. Yang mau menikah, jangan takut tak direstui jika belum dicoba, jika statusnya dipertimbangkan, perlihatkanlah kesungguhannya baik pada keluargamu atau keluarganya. Yang mau bersedekah jangan ragu, bertransaksi dengan Allaah insyaaAllaah berkali lipat balasannya. Yang mau membahagiakan orang tua selain materi coba bawakan yang dido’akan selalu oleh orang tua untuk masa depanmu a.k.a teteup perkara tentang salah satu janji terberat kepada Allaah, yang lagi belajar semoga tau ya.

Catatan tambahan, tak ada maksud lain lain, hanya ada satu maksud lain yaitu jika sudah siap segerakan walau dirasa materi belum cukup. insyaaAllaah dicukupkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s