Ini pengalamanku menjadi wanita 1/2 Cadar (Satu hari mengenakannya)

 

Bismillah, selamat pagi sahabat semuanya. Semoga pagi ini dan seterusnya selalu dalam keadaan baik. Hari ini saya akan menulis pengalaman saya mengenakan Niqob (Cadar) meskipun itu hanya satu hari. Sebelum sahabat sekalian selesai membaca ini saya mohon jangan langsung men-judge diri yang sedang belajar ini salah karena mengenakannya hanya sehari lantas membukanya. Karena sifat hakiki manusia adalah lemah, begitupun dengan saya. Semoga tulisan ini bisa membantu kita untuk menghargai proses seseorang, entah itu laki-laki yang sedang berhijrah maupun perempuan.

Hari itu saya memutuskan ingin mencoba walau sehari dan walau belum sempurna untuk mengenakannya. Dalam sebuah perjalanan singkat mengunjungi saudara yang melaksanakan hajat walimatul ursy di Belitong. Pada hari terakhir saya berada disana saya memutuskan untuk mencoba mengenakan niqab. Jauh dari jakarta sudah saya niatkan untuk mencoba mengenakannya, hingga saya bawa satu helai niqab di koper saya, itu pun bukan milik saya melainkan saudari saya, karena memang saya belum mendapat restu dari orang tua, dan saya berprasangka baik akan belum direstuinya saya, selagi saya masih diizinkan di dukung menggunakan yang wajib tak ada alasan saya untuk berdebat terhadap hal tersebut.

Hari itu, 18 Juli 2017 hujan pagi mengguyur kota Tanjung Pandan. Saya kehabisan stock masker saya, dan berhubung kulit saya yang mudah menghitam sedang agenda hari terakhir adalah mengunjungi pantai maka saya teringat sehelai niqab yang saya bawa, wallahi niat utama saya bukan mengenakannya agar tidak menghitam, saya ingin merasakan ‘bagaimana rasanya ketika menggunakan ini (niqob), akankah orang orang di sekeliling saya takut atau bahkan mendukung’. Beberapa pertanyaan saya lontarkan terhadap saudari-saudari saya dan jawaban mereka alhamdulillah.

DSCF4209

Saya turun dari lantai 2 hotel dan mencoba berinteraksi dengan saudara dan saudari saya ternyata mereka pun tetap mencair seperti sebelumnya, berbanding terbalik dengan hal yang saya takutkan. Sekeliling saya pun tidak ada yang berubah. Hanya hati saya yang berubah ‘ini serius kamu mau pakai seharian? Udah siap jika fotonya nanti ada yang berniqob? Udah siap menjawab pertanyaan Ama dan keluarga?’ ada pertanyaan yang terus berbicara di pikiran saya, saya menjawab pada hati saya ‘InsyaaAllaah Allaah akan lembutkan hati hambaNya, jikapun hanya hari ini saya mengenakannya setidaknya saya sudah mencoba mengenakannya dan saya bisa sedikit tahu bagaimana perasaan dan perjuangan saudari saya sehingga tak membuat saya merasa takut terhadap keputusan mereka bersyar’i secara sempurna’.

Lantas pertanyaan kecil lain sekali lagi menggelitik dalam pikiran saya ‘Kan kalau sudah pakai nanti ndak boleh dilepas, hargailah saudarimu yang telah istiqomah mengenakannya, apa ndak malu jika nanti makan kamu lepas dan besok kamu pun tidak menggunakannya’.

Astagfirullah, di dalam mobil saya banyak menarik nafas seraya meminta pertolongan Allaah agar saya dijauhkan dari bisik hati yang pastinya datang dari syetan menggoda niat saya mengenakan dalam sehari tersebut. Seketika itu juga saya mencoba meyakinkan diri dengan membaca beberapa artikel terkait bagaimana hukum mengenakan niqob.

Apakah ketika menggunakan niqob kemudian kita tidak diperbolehkan melepaskannya kembali? Kemudian kita menjadi berdosa? Ini mungkin yang masih menjadi kendala untuk para akhwat seperti saya yang awam akan ilmu tersebut, ataupun akhwat yang sudah ingin dan siap mengenakan niqob namun belum mendapat restu dari keluarga.

Jika kita ingin mengenakannya namun belum mendapat restu dari keluarga aka jangan langsung salahkan keluarga, bisa jadi beliau beliau itu belum begitu tahu hukumnya. Selagi yang wajib digunakan oleh seorang perempuan tidak dilarang melainkan di support oleh keluarga menurut saya tak apa ikuti rules yang dibuat di keluarga, jika memang mau mengenakannya berbaik dan berlembut hatilah menjelaskan kepada Ibu dan Bapak, seriously beliau pastlah sayang dan cinta dengan anak gadisnya, hanya beliau-beliau itu sudah tak ada waktu untuk mempelajari lebih dalam terkait hukum mengenakan pakaian syar’i yang sempurna, terlebih beliau beliau yang sudah sepuh janganlah tambah engkau bebani dengan engkau menjelaskan hukum tentang ilmu syar’i seperti kalian menjelaskan dengan saudara atau saudari seumuran, yang ada tak sedikit akhirnya orang tua malah jadi memandang anaknya menjadi salah setelah mengaji. Astagfirullah, bukan pengajiannya yang salah ketika masih berada dalam jalur sunnah, hanya mungkin kitanya sebagai anak yang sedang begitu bersemangat lantas salah berkomunikasi dalam menjelaskan ilmu syar’i tersebut. Jika pun mau berkomunikasi perihal keinginan kita untuk mengenakannya pastikan dengan cara komunikasi yang baik, kita tiru cara saudari kita yang berhasil mengkomunikasikannya ya, ukhti fillah.

Saya mengenakannya karena ingin mengetahui bagaimana perasaannya dan bagaimana sekitar melihat saya. Pagi itu berjalan dengan baik, petugas hotel yang kemarin kemarin saya ajak berbincang pun semakin ramah, Pak Supir yang mengantarkan kami kemana mana selama di Tanjung Pandan pun tetap ramah dan baik, saudara dan saudari saya selama perjalanan tersebut pun tidak ada yang berubah sikap terhadap saya dikarenakan saya mengenakan niqob saat itu. Ketika makan saya melepasnya karena memang sulit makan menggunakan niqob, jika minum saya masih bisa kalaupun saya menggunakan niqob. Agenda hari itu adalah kami makan di bibir pantai kemudian dilanjutkan dengan melihat danau kaolin, selepas itu kami bergegas menuju bandara untuk flight jam 16.25. Jam 3 sore kami masih berada di danau kaolin, ketika saya turun dari hiace (mobil travel) beberapa orang yang sedang berfoto memandangi saya, saya balas dengan senyuman yang pastinya hanya terlihat dari ekspresi mata saya dan mereka membalas senyuman itu, Alhamdulillah saya berucap dalam hati. Kemudian jam 3.11 kami sampai di Bandara, kami memang tidak menghabiskan banyak waktu di danau Kaolin, sesampainya di Bandara ada beberapa orang yang melihat kearah saya dan mungkin menebak mana mahram saya karena saya bersama saudara dan saudari yang masih sama mudanya. Saya membalas perhatian mereka dengan senyum dan mereka pun kembali tersenyum. Hal yang membuat saya menarik nafas meminta dikuatkan sampai malam adalah ketika saya masuk ke boarding room ada seorang ibu yang memperhatikan saya dari saya masuk kemudian saya melewati beliau dengan menatap saya dan saya membalas dengan ucapan ‘permisi’ sambil tersenyum, Ibu tersebut tidak melepaskan perhatiannya kepada saya. Sampai sekitar lima menit saya duduk sejajar dengan beliau terbatas 10 orang diantara kami, beliau tetap memperhatikan saya, saya coba untuk menganggukan kepala seraya memberikan senyuman kepada beliau, mata kami berjumpa dalam satu garis dalam beberapa detik. Saya diam dan beliau terus saja memperhatikan saya.

Apa perasaan saya? Risaukah? Marah kah? Wallahi tidak sama sekali, saya bersyukur saya diberi pelajaran hari itu bahwa saudari saya yang sudah mengenakannya melalui perjuangan yang tidak mudah, saya salut dan seraya mengucap ‘MasyaaAllaah untuk para saudari saya dimanapun mereka yang menggunakan niqob, baik yang sudah mendapat restu dari keluarga maupun yang sedang berjuang, semoga Allaah mudahkan dan kuatkan hati mereka’.

Malamnya setelah kami mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, dan  ketika di bus menuju rumah masing-masing saya  masih bersama dengan saudara dan saudari saya, karena tempat mengekost kami yang tidak berjauhan, kemudian saya bercerita kepada salah seorang kakak yang tepat duduk disamping saya, yang beberapa kali meledek saya dengan maksud baik pastinya. Saya membuka percakapan dengan mengatakan ‘Tadi aku diliatin seorang ibu sampai mata kami berjumpa dalam satu waktu selama beberapa detik, salah ya aku pakai niqob?’, di balas pertanyaan ‘Kenapa kamu pakai niqob?’, saya menjawab ‘Ya aku mau tau aja gimana rasanya perasaan saudari yang sudah hijrah seutuhnya terlebih kan tau sendiri kulitku aneh kalau di luar jawa pasti menggelap seketika, tapi niat awalnya bukan untuk terhindar dari gelapnya wajah kok, aku seriusan pengen tau aja gimana rasanya’, dibalas lagi ‘Gimana? Eh iya awas itu jangan kekencengan ngiketnya nanti tulang hidungnya tertekan (kemudian dia jelaskan tentang struktur tulang hidung, yang really saay itu saya sendiri ndak ngerti kenapa kakak ini menjelaskan panjang lebar tentang tulang hidung, hahahahha)’, saya pun jawab ‘Siap boss ndak kencang kok (sambil meyakinkan bahwa saya memang tidak mengikatnya kencang saya sentuh niqob tersebut), rasanya itu ‘BERAT’ tapi masyaaAllaah, semoga surga untuk mereka’, percakapan berlanjut ‘Berat kenapa?’, ‘Ya karena ndak semua lingkungan menerima’. Beberapa detik kami saling hening, dilanjutkan dibuka pembicaraan oleh kakak tersebut ‘Kamu tau kenapa mereka melihat kamu seperti itu? itu karena kamu eye catching artinya, sama saja ketika disuatu acara ada laki-laki mengenakan jas, sekeliling pasti langsung kasih perhatian lebih, karena laki-laki tersebut jadi terlihat makin ganteng cenderung tampan serta  rapih, nah mungkin ibu itu melihat kamu eye catching mengenakan niqob, ambil positive nya saja ya’.  Di sela si kakak tersebut menyampaikan pendapatnya kami sempat tertawa bersama ketika yang diberi contoh adalah laki-laki berjas yang akan semakin terlihat ganteng cenderung tampan, mencairkan suasana malam itu, sembari saya menyeletuk ‘berarti aku makin cantik dong pakai niqob?’, seketika dipasang wajah -_- Zzzzzz, ahahaha kami pun tertawa kembali.

And the last but not the least, Jadi bagaimana perasaan saya ketika mengenakannya? Merasa sangat dihormati, tidak sembarang pandang terarah kepada saya, terutama dari para lelaki.  Nyaman dan merasa sangat aman, perihal bagaimana lingkungan memberi perhatian kembali lagi kepada kita, bisa atau tidak membaurnya, kebanyakan si bisaa ya, lihatlah sekarang banyak saudari kita yang sudah memutuskan hijrah sepenuhnya. Mereka pun pada akhirnya di support oleh keluarga.

Saat orang tua saya melihat foto saya dihari tersebut saya juga sebenarnya tidak bisa membayangkan ekspresi dari orang tua akan seperti apa, tapi Alhamdulillah berkat berkomunikasi yang benar dan baik, beliau beliau dapat mengerti, walau belum memberikan lampu hijau sepenuhnya untuk saya, tapi itu cukup bagi saya. Terima kasih Ama untuk yang selalu support saya.

Nah terkait untuk hukum mengenakan Niqob bisa nih teman-teman di buka link berikut ini, semoga membantu. Afwan, jika tulisan saya masih kacau, ini hanya dari sudut pandang saya yang masih awam ilmu, semoga tulisan ini tidak menyakiti siapapun melainkan membawa kebermanfaatan.

 

https://muslim.or.id/6207-hukum-memakai-cadar-dalam-pandangan-4-madzhab.html

https://muslimafiyah.com/alhamdulillah-aku-wanita-setengah-cadar-sekarang.html

 

 

Ada sedikit nasihat yang pernah saya dapat ketika sedang ikut kajian kurang lebih seperti ini “Jika kamu ingin mengenakan Niqob namun belum mendapat restu atau tempat kerja tidak memperbolehkan, maka silakan kenakan di tempat-tempat tertentu saja, semisal ketika mengikuti kajian atau ketika sedang bersama teman yang saling mendukung, jika kita tidak bisa mengerjakannya seluruhnya maka jangan tinggalkan yang sebagian tersebut’.

 

Semoga bermanfaat.

Depok 29 Juli 2017

 

@srsitirahayu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s